GOLBET88 | Bandar Bola Online | Judi Togel | Casino Online | Poker Online
728x90 Untitled-1

DIAJARIN NGENTOD SAMA TANTE

DIAJARIN NGENTOD SAMA TANTE – Fan, kamu nanti antar Tante yah ?” Berkata Tante Mala padaku, terdengar kata-katanya begitu lembut namun tegas, mengagetkanku. Saat itu aku sedang menikmati kopi di beranda atas rumah, yang menghadap kolam renang. Pagi ini seperti biasa, bangun tidur, sebelum mandi, aku menghirup kopi, menikmati sinar matahari, menghirup asap rokok sambil melamunkan entah apa. Hari itu memang aku sedang mengambil dayoff dari kantorku, aku berencana mengambil libur beberapa hari, selain badanku agak letih setelah beberapa hari mengejar target setoran kerjaan, juga maksudku adalah untuk menenangkan pikiran, yah mengistirahatkan otakku lah, lumayan dari hari kamis sampai dengan minggu.

Semalam memang aku ngobrol dengan Tante Mala, dan aku bilang ke tante mala bahwa beberapa hari ini aku akan libur, namun aku tak menyangka bahwa Tante Mala akan memanfaatkan waktu liburku ini. Dari perkataan Tante Mala yang meminta aku mengantarnya seolah tak menginginkan adanya penolakan dariku.
“Nganter kemana Tan ? “ aku tak mengiyakan ataupun tak menolaknya, namun hal ini jelas memberikan asumsi kepada Tante Mala kalo aku tidak keberatan namun ada penekanan terhadap kejelasan dari permintaannya. Yang jelas aku kan males aja kalo seandainya disuruh nganter ke tempat arisan atau kumpulan ibu-ibu yang bikin aku bete.
“Kamu gak ada acara kemana-mana kan Fan ?” begitu kata Tante Mala lagi melihat keraguanku muncul, sambil tersenyum seolah membujuk aku agar tak menolaknya.
“Ini Fan, Tante ada urusan sedikit sama Ibu Sandra, kamu kenal kan ? Tante minta kamu antar dan ikut Tante… kami mau ada acara..ya nanti sore-sorean aja kali Fan, abis Tante malas kalo pergi sendirian…” begitu kata Tante Mala lagi.

Begitu mendengar nama Ibu Sandra, kontan pikiranku membayangkan sesosok tubuh. Seorang wanita setengah baya, mungkin seumuran dengan Tanteku ini kurang lebih 36an tahun. Aku memang mengetahui wanita yang dimaksud Tanteku ini, beberapa kali ia datang ke rumah ini, dan aku hanya sebatas kenal saja, beberapa kali bertegur sapa, berbasa-basi dan hanya sebatas itu, tidak lebih. Aku hanya mengiyakan saja permintaan Tante Mala, mengangguk dan menyetujui permintaannya, karen toh menolak pun percuma, lagian aku juga gak ngapa2in ini.
Sebenarnya aku sungkan dan malas mengantar Tante Mala ke rumah Ibu Sandra. Yang membuat aku segan dan malas adalah bahwa biasanya ini menyangkut bisnis perempuan dan aku enggan untuk ikut campur. Kuketahui dari pembicaraan mereka berdua yang kadang tanpa sengaja kukupingi bahwa Tante Mala dan Ibu Sandra melakukan usaha patungan untuk memperdagangkan barang dagangan, namun aku kurang jelas dengan produk yang mereka perdagangkan. Namun yang kuketahui lagi bahwa Ibu Sandra bersuamikan seorang importir yang memasok barang2 dari luar negeri dan mereka berdua memasarkannya disini.

Ibu Sandra dan Tante Mala memang kulihat tampak sangat akrab, beberapa kali Ibu Sandra datang ke rumah ini, dan Ibu Sandra nampak tak sungkan dengan keadaan rumah ini. Seolah rumah ini sudah dianggap sebagai rumahnya juga, beberapa kali beliau kulihat makan bersama, kadang ikut tiduran di ruang keluarga, kadang ikut renang dan menumpang mandi disini. Aku baru mengetahui bahwa sebenarnya Tante Mala dan Ibu Sandra dulunya adalah teman satu sekolah, dan suami ibu Sandra juga adalah teman satu sekolah mereka.
Sore itu seperti yang telah disepakati, setelah aku cukup istirahat, lumayan ketiduran pules beberapa jam, aku pergi mengantarkan Tante Mala ke tujuan yang dimaksud, tentunya setelah aku mandi dan berdandan ala kadarnya, yang jelas aku usahakan agar aku berpenampilan tidak kelihatan ndeso, namun jika kubandingkan dengan Tante Mala, jelaslah aku kalah jauh. Seperti layaknya Tuan dan Majikan, hehehehe….kuperhatikan Tante Mala berdandan dengan dandanannya yang Wah, bikin ngiler. Dengan dandanannya yang kulihat seperti serba terbuka, nampak mempertontonkan keindahan tubuhnya. Aku tak menyangka bahwa Tante Mala kelihatan seperti gadis 20an tahun, jauh menggambarkan dari umur sebenarnya.
Dengan baju entah model seperti apa, hanya dengan tali sebelah yang menggantung di pundaknya, dengan belahan dada yang cukup rendah, dipadu dengan celana ketat, jelas menimbulkan hasrat bagi setiap lelaki yang melihatnya. Aku meliriknya sesaat saat menjalankan mobilnya, melintas dipikiranku seakan-akan aku membawa cewek yang menjadi pacarku dan sedang mengajaknya kencan.

Mobil kuarahkan menuju tempat yang dimaksudkan, tak banyak perbicangan yang terjadi selama kami berada dalam mobil, beliau hanya sesekali mengajukan pertanyaan yang tidak begitu penting, hanya sekedar basa-basi sambil menunjukkan ke arah mana aku harus berbelok.
Pikiranku menerawang saat sesekali melirik wanita yang berada disebelahku ini. Dia memang Tante Mala, wanita yang sangat cantik, berbody mulus, putih, halus, montok, sexy dan segala macam kata2 yang ada aku kira tidak dapat menggambarkan ke-perfect-an tubuhnya. Wanita yang sangat kukagumi akan kecantikan dan kemolekannya, yang aku sering membayangkan, dan selalu berharap dapat menjamahnya lagi. Pikiranku jadi malayang, mengingat kejadian-kejadian selama aku tinggal dirumahnya, kejadian2 yang membuat hati ku berdesir, membuat seolah perutku tertarik.

Aku membayangkan kejadian dimana aku memijitinya, meraba2 seluruh bagian tubuhnya, meremas2 payudaranya, dan memasukkan dedeku ke vaginanya, sementara beliau sedang tertidur pulas.
Pernah sering kali, saat beliau mungkin sedang ingin berbagi cerita dengan seseorang, beliau memasuki kamarku dan mengajakku ngobrol ketika aku sedang mengerjakan pekerjaan. Kadang ngebrol hingga jauh malam, hingga membuatnya tanpa sengaja tertidur pulas. Disaat itulah pikiran kotorku sering timbul, kubiarkan ia tertidur pulas dikamarku, dan beberapa lama kemudian, dengan sengaja dan pelan2 aku ikutan merebahkan badan disampingnya.
Dan seakan ada yang membimbingku, dan mengajariku bagaimana caranya mendapatkan sensasi, aku akan berpura2 tertidur juga disampingnya, berpura2 tanpa sengaja menaikkan dasternya hingga ke batas pinggulnya, sehingga membuat pahanya terlihat, membuat celana dalamnya terbuka, dan aku akan berpura2 tertidur pulas dengan memeluknya dari belakang, menempelkan dedeku diantar garis pantatnya, dan kadang mengeluarkan dedeku agar sekedar mendapat celah untuk menyelusup dan mendekam diselengkangannya. Sementara tanganku memeluknya dari belakang, berusaha meraih payudaranya, menyentuhnya pelan, kadang sampai meremas-remasnya, hingga berhasil mencapai kepuasan.
Setelah beberapa lama aku tinggal di rumah tanteku ini, memang kadang membuatku berpikir bahwa aku telah semakin rusak dan merusakkan. Aku yang dulu dididik oleh orang tuaku dengan pendidikan agama yang cukup ketat, lambat laun kini telah berubah. Kuakui bahwa dirumah inilah aku mengenal sex, merasakanya langsung. Selama ini kukenal sex hanya sebatas pengetahuan saja, dan merasakannya hanya dengan membayangkannya saja.

Aku mulai nekat ingin merasakan sex, ketika aku berada dirumah ini, ketika aku mulai melihat dengan mataku sendiri, wanita-wanita cantik di rumah ini, yang notabene adalah bukan muhrimku, yang sering memancing birahiku ketika aku melihat mereka dalam keadaan yang membuat kelaki-lakianku bangkit. Semakin lama aku tinggal di rumah ini, kurasakan bahwa aku semakin tidak dapat mengendalikan hawa napsuku. Aku semakin rusak, ketika malah sebaliknya, hawa napsukulah yang mengendalikan aku.
Sering aku membuat salah satu dari mereka, entah Tante Mala, Mita atau Maya yang menjadi bahan dari masturbasiku, mungkin hanya Mozalah yang selama ini belum pernah aku sentuh. Tante Mala sering kujadikan objek seksualku saat ia sedang terlelap, si bungsu Maya malah seolah belajar dari aku bagaimana caranya mendapat sensasi dalam urusan seks ini, tidak jarang sepertinya Maya mungkin sewaktu ada “keinginan” dan tidak tahu harus melakukan apa, meminta padaku untuk memuaskan keinginannya itu entah dengan cara memeluk-meluk aku dan membiarkan aku menjamah seluruh tubuhnya hany sekedar ingin merasakan rangsangan yang memberinya kepuasan.

Mita anak keduanya, bahkan pernah hampir saja melakukan hubungan terlarang denganku, melakukan hubungan seksual denganku kalo saja aku tidak dapat menguasai dan mengendalikan napsuku, ia kulihat memang lebih berpengalaman dari saudara-saudaranya, ia yang mulanya sangat aku takutkan untuk mengadukan kejadian tersebut ternyata hanya berkata kepadaku untuk melupakan semua yang terjadi serta tidak membuka rahasia ini kepada siapapun, dan justru itu yang membuat aku merasa “aman”.
Pernah suatu ketika saat kami semua beramai-ramai berolah raga renang, hampir semua wanita2 dirumah ini mejadi objek seksualku, dari sekedar menyentuh, meraba seolah tanpa sengaja, hingga menempelkan dedeku dibagian tubuhnya. Hingga aku sempat merasakan kesan bahwa aku merusak mereka. Entahlah yang jelas mereka semua adalah menjadi objek atau bahan coli/masturbasi ku.

Aku semakin melamun, membuat aku yang sedang menyetir mobil tanteku ini, tidak dapat berkonsentrasi, membangunkan dedeku sehingga membuat celanaku menonjol keluar, kulirik ke sebelah, tampak tanteku sedang mengarahkan pandangan ke depan, melihat ke arah jalan yang kulewati. Aku membayangkan bahwa Tante Mala saat ini, sedang menggodaku, menurunkan baju merah ketatnya, memperlihatkan payudaranya, menyentuhnya, memancingku untuk melihatnya, memintaku untuk menyentuhnya, merabanya dan meminta aku untuk meremasnya.
Duh, seandainya yang disebelah kiriku ini adalah pacarku, mungkin aku sudah meng-apa-apain-nya sejak tadi, aku mungkin sudah menarik bajunya, menyembulkan payudaranya keluar, memegang dan meremas-remasnya sambil menyetir kendaraan ini, duh seandainya ia bukan Tanteku….
Tak terasa mobil yang kukendarai telah sampai di tempat tujuan, hari menjelang maghrib ketika ketepikan mobil di depan garasi sebuah rumah yang cukup asri, mungil namun memberi kesan bahwa rumah tersebut dimiliki oleh orang yang berkecukupan. Tante Mala turun dari mobil, dan memintaku untuk menyertainya turun. Mulanya aku enggan dan mengatakan padanya bahwa aku lebih baik menunggunya di mobil saja, namun Tante Mala mengatakan padaku bahwa kemungkinan akan lama dan meminta aku menyertainya.
Aku akhirnya mendampinginya untuk memasuki rumah itu, membuka pagar dan mengiringi langkah kaki Tante Mala masuk ke dalam rumah. Kulihat ada sebuah mobil terparkir digarasi dalam rumahnya, terus aku menghampiri pintu depan. Belum sampai kami di depan pintu dan hendak mengetuknya, kulihat pintu depan rumah terbuka, dan nampak dibalik pintu seraut wajah cantik dan ramah menyapa kami berdua.

“Hai, jadi juga rupanya kalian datang, sudah ditunggu tunggu sejak tadi, kirain gak pada jadi datang” sambutnya ramah, sambil membuka pintu lebar-lebar.
Tante Mala tampak disambut gembira oleh Tante Sandra, keduanya berpelukan sembari cium pipi kanan dan pipi kiri, yang membuatku menjadi jengah, dan inilah yang membuat ku agak bersemu, tanpa sungkan2 Ibu Sandra, memberikan aku cipika-cipiki juga.
“Eh Fandi, kmu ikut juga toh, gitu dong sekali2 maen ke rumah Tante “ katanya sembari mencium pipi ku.
Aku hanya tersenyum mendapat perlakuannya, yang semula aku ingin memanggilnya dengan sebutan ibu, kini seolah mendapat penghargaan dengan disuruh untuk memanggilnya Tante.
Aku menjadi bersemu merah karena pada saat itu Tante Sandra mengenakan baju tipis, transparan warna kebiru-biruan, dengan bercelana santai , mungkin saat itu beliau baru selesai olehraga sore dan karena dirumah ini kulihat tidak ada siapa2 selain beliau seorang diri jadi mungkin Tante Sandra cuek saja dengan dandanannya.
Namun jelas ini membuat pikiranku miring, dan mukaku menjadi bersemu merah, bagaimana tidak, biar bagaimanapun aku adalah seorang lelaki yang jelas jika melihat pemandangan seperti ini membuat kelaki-lakianku bangun.

Rumah itu kulihat kecil saja, hanya terdapat ruang tamu, ruang keluarga dan hanya 2 kamar tidur, hanya terdapat foto Tante Sandra dan Suaminya yang belakanganan kuketahui bernama Om Herman, mereka telah menikah belasan tahun namun hingga kini belum dikaruniai anak. Kulihat di foto yang dipampang, tampak Om Herman dengan wajahnya yang bersih, ganteng layaknya Om Mirza, lelaki penuh kematangan dan kemapanan tersenyum dengan jas hitam.
Memasuki ruang tamu, aku diminta untuk terus ke ruang keluarga dan dipersilahkan duduk olehnya. Tante Mala tampak dirumah itu bagaikan rumahnya saja, sama seperti Tante Sandra dirumah kami, itu diperlihatkan dengan cara Tante Mala yang sepertinya sudah hapal dengan keadaan rumah itu, duduk di sofa sambil mengangkat kaki dan langsung merebahkan diri.
Tante Sandra tanpa basa-basi memintaku untuk tidak sungkan, untuk mengambil minum sendiri karena dirumah itu ia hanya seorang diri katanya, tanpa pembantu. Dan berkata kepada kami bahwa ia akan mandi, berdandan dan bersiap-siap. Aku hanya tersenyum dan mengiyakannya, kulihat Tante Mala, bangkit berdiri dan mengikuti Tante Sandra masuk ke Kamar Tante Sandra, mereka tampak berbicara didalam, kemudian kulihat Tante Sandra memasuki kamar mandi didalam ruang kamar tidurnya dan aku hanya menunggu di ruang keluarga dan sambil membaca buku yang tergeletak di meja dan sesekali melirik ke arah kamar yang tidak tertutup.

Tak berapa lama kulihat Tante Sandra selesai mandi, kulirik dari pintu yang tidak tertutup rapat, dengan seenaknya sambil berbicara dengan Tante Mala, Tante Sandra kulihat menggosok-gosokkan badannya dengan handuk, mengeringkan badannya, dan melemparkan handuk ke arah ranjang, tanpa menyadari bahwa aku melihat aktifitas yang dilakukannya. Aku hanya dapat menahan napas berusaha mengendalikan hawa panas dan jantung yang berdegup kencang, dan berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain.
Tak berapa lama, kulihat kedua wanita itu telah keluar kamar, aku memandangnya sekejap, kulihat 2 wanita yang sama2 cantik, berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Tante Mala dengan baju merahnya yang ketat, menampilkan sosok keindahan wanita yang elegan, dengan payudara yang padat merayap menonjolkan lekuk tubuh yang padat berisi, sementara disampingnya berdiri dengan gaun warna hitam wanita yang tak kalah seksi, dengan baju berbelahan rendah, memperlihatkan hampir duapertiga isinya, membuat laki-laki yang melihatnya menahan napas, berkacamata bening, menimbulkan kesan anggun. Aku hanya terpaku dan tersenyum melihat mereka berdua. Kalo saja mereka meminta pendapatku soal penampilan mereka, entahlah, apa yang harus kuucapkan, mungkin aku hanya dapat tersenyum saja dengan memasang tampang muka bego.
Kupikir tujuanku hanya sampai dirumah ini, namun akhirnya kuketahui bahwa, malam itu mereka akan mengadakan acara makan malam, Om Herman akan mengajak mereka makan malam. Mulanya yang akan di ajak makan malam adalah Tante Mala dan Suaminya, Om Mirza, namun karena Om Mirza kebetulan saat ini sedang sibuk2nya dengan proyek diluar kotanya, maka Tante Mala memutuskan untuk menyertakan aku, aku sempat mendengar bahwa Om Herman mengajak makan malam semua, karena Tante Mala dianggap berhasil memasarkan produk yang di import olehnya, yah itung-itung sebagai bonuslah, katanya.

Duh untung saja saat ini aku mengenakan pakaian yang cukup rapi, kemeja hitam lengan pendek dengan celana katun warna putih, sehingga keliatan macho lah dikit, walaupun tampangku masih keliatan ndeso, dan kalo soal itu mah, gak bakal deh bisa dirubah…. Hehehe..
Tepat jam 7, kami bertiga akhirnya pergi meninggalkan rumah Tante Sandra, dimana Tante Mala berada disampingku dan Tante Sandra jok kursi dibelakang menuju tempat dimana acara tersebut akan diadakan. Aku mulanya berpikir bahwa tempat makan yang kami tuju adalah dekat saja dari sini, namun ternyata adalah bahwa tempat itu letaknya cukup jauh mungkin sudah ke arah luar kota, ke arah pelabuhan yang jauh dari kota ini, dimana bisa 2 atau 3 jam perjalanan dari sini. Pantes saja Tante Mala mengajak aku, gerutuku dalam hati.
Jam 9 lewat kurang, aku telah sampai ditempat yang dituju, selama perjalanan aku hanya berdiam diri dan sesekali ikut nyeletuk dengan pembicaraan kedua wanita penumpangku. Tempat yang dituju adalah sebuah Tempat Peristirahatan dengan fasilitas hotel berbintang, walaupun tidak ada gedung bertingkatnya namun kulihat disitu nampak berjejer kamar-kamar dengan berbentuk bungalow, dengan fasilitas restoran, kolam renang dan segala macam fasilitas lain tersedia.

Om Herman menyambut kami dengan antusias, kelihatannya mereka bertiga sudah sangat akrab, dan aku hanya mengikuti mereka dengan malu-malu. Kami bertiga langsung diajak untuk mengikutinya, Om Herman nampak sangat ramah, beliau menanyakan kabar Om Mirza dan keluarga Tante Mala, bahkan beliau meminta kami, aku dan Tante Mala untuk menginap di tempat itu. Aku tak menjawabnya hanya tersenyum dan melirik Tante Mala, seolah mengatakan bahwa ini semua tergantung Tante Mala.
Baru berapa menit kami duduk, bahkan makanan pun belum kami pesan, tiba-tiba salah seorang pelayan menghampiri meja kami dan berbicara dengan Om Herman bahwa ada seseorang yang menghubunginya lewat telepon dimeja counter. Om Herman kemudian bangkit berdiri dan menuju kearah yang ditunjukkan oleh pelayan tersebut. Aku hanya memandang ke arahnya dan berpikiran kalo ternyata Om Herman cukup dikenal disini, mungkin karena bisnisnya yang sukses sehingga beliau banyak dikenal orang.
Tak lama kemudian Om Herman datang menghampiri kami, beliau mengatakan kepada kami bahwa ada sesuatu terjadi dan harus diurus saat itu juga. Ada salah satu kliennya yang mengirimkan barang terlambat datang, sedangkan barang tersebut adalah produk baru yang harus diperhatikan kualitas dan kuantitasnya dan beliau harus mengeceknya. Tampak sekali beliau bimbang dengan hal ini, sambil menjelaskan bahwa produknya ini adalah produk khusus untuk wanita, dan kelihatan sekali beliau ingin meminta istrinya untuk membantunya sedangkan apabila dilakukan besok maka pengiriman ke distributor akan terlambat pula.

Aku dan Tante Mala berpandangan bingung, sudah jauh2 kami kesini dan sekarang kami akan ditinggalkan, apakah Aku dan Tante Mala harus pulang?, dengan acara yang tiba2 saja batal ? Ataukah aku dan Tante Mala harus tetap tinggal dan bahkan harus menginap disini sementara menunggu Om Herman dan Tante Sandra selesai dengan pekerjaannya ? aku hanya diam tak berkomentar apapun.
Sejenak mereka berpikir, akhirnya diputuskan oleh Tante Mala, kalo aku dan Tante Mala akan ikut menginap disini, mengingat perjalanan yang cukup jauh, toh jika pun kami harus pulang tentu akan cukup melelahkan, dan diputuskan pula, bahwa agar tidak membuat kami kecewa, maka Tante Mala akan ikut membantu Om Herman untuk melakukan pengecekan terhadap barang tersebut, toh bisnis ini juga melibatkan Tante Mala. sedangkan Tante Sandra bertugas menemaniku sambil menunggu kedatangan keduanya dengan alasan bahwa Tante Sandra saat ini sedang tidak enak badan dan lebih baik menunggu di hotel saja.
Maka dengan tidak ada pikiran apapun, ditinggallah kami berdua, Aku dan Tante Sandra. Aku hanya lurus-lurus saja melihat kepergian mereka, kalaupun aku misalnya disuruh ikut dengan mereka sebetulnya aku juga tidak menolaknya, namun dengan kondisi yang cukup lumayan capek karena membawa mobil dalam perjalanan yang cukup jauh jelas menjadi pertimbangan tersendiri diantara kami. Akhirnya tinggalah aku berdua dengan Tante Sandra, sedangkan Tante Mala dan Om Herman berangkat menuju ke arah gudang pelabuhan menaiki mobil Om Herman.
Setelah memesan makanan yang kurasa dapat membangkitkan rasa laparku, dan sambil menunggu makanan itu tiba, aku bercakap-cakap dengan Tante Sandra, walaupun banyak percakapan yang hanya sekedar basa-basi namun pembicaraan kami berlangsung segar. Aku baru menyadari bahwa selain enak dilihat, tante Sandra juga orangnya sangat fleksible, ramah, dan bisa diajak bercanda. Kadang kami bercakap sambil tertawa dan sesekali Tante Sandra melayangkan cubitan ataupun tepukan ke bahuku apabila candaku cukup mengena. Kadang beliau menggodaku bahkan kerap menjahiliku bila percakapan menjurus ke arah persoalan perempuan dan hal-hal yang berbau seks.

Entah berapa lama kami menunggu dan melakukan pembicaraan, kulihat satu demi satu para tamu yang bersantap di restoran ini mulai menghilang. Dan malampun semakin larut, tak terasa. Kulirik jam ditanganku, telah menunjukkan hampir pukul 11, kulihat Tante Sandra matanya kerap berkedip menandakan kalo beliau sudah merasa ngantuk. Aku kemudian mengajak beliau untuk meninggalkan ruang itu, dan bermaksud untuk beristirahat dikamar yang telah disediakan oleh Om Herman. Tante Sandra menyetujuinya, sambil mengatakan kalau kami lebih baik menunggu dikamar saja.
Kami akhirnya meninggalkan ruang makan restoran tersebut, berjalan beriringan keluar, menuju kamar yang telah Om Herman sediakan untuk kami. Tempat itu aku perhatikan lebih merupakan sebuah tempat peristirahatan, layaknya sebuah komplek perumahan dengan bungalow-bungalow yang berjejer, dengan banyak fasilitas yang tersedia. Kulihat beberapa mobil berjejer di pelataran parkir tempat tersebut, menandakan bahwa saat ini tempat tersebut cukup banyak pengunjungnya.
Dalam keremangan lampu, aku dan Tante Sandra melangkah menyusuri tepi jalan menuju bungalow yang kami tuju yang sebelumnya telah ditunjukkan oleh resepsionis. Aku menundukkan kepala, berusaha memperhatikan jalan yang aku lewati, berusaha hati-hati agar tidak tersandung batu, sementara disebelahku berusaha mengikutiku, menggandeng memegang lenganku, tante Sandra, melewati beranda-beranda bungalow yang nampaknya beberapa telah terisi.
Sambil berjalan, kami bercakap lirih, memberi komentar terhadap keadaan tempat ini, dan kuketahui bahwa tempat ini merupakan tempat singgah favorit bagi Om Herman dan Tante Sandra. Saat kami melewati beberapa bungalow, kuperhatikan bahwa hampir semuanya mempunyai bentuk dan luas yang sama, masing-masing bungalow terpisah berjarak beberapa meter satu dengan yang lainnya, sungguh asri.

Namun sebenarnya bukan itu yang menjadi pikiranku, saat melewati bungalow, kulihat lampu beranda menyala menandakan bahwa tempat tersebut berpenghuni, namun kadang lampu dalam ruangan kulihat ada yang menyala terang, redup ataupun gelap. Dan sewaktu kami melewati salah satu bungalow itu, seperti terdengar suara desahan dan rintihan yang keluar dari dalam ruangan dimalam yang sepi ini. Aku hanya tersenyum sambil memandang tante Sandra. Kulihat wajah Tante Sandra pun sedang memandang kearahku, aku jadi nyengir dan kemudian tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan Tante Sandra.

Saat berjalan ini, tangan tante mala yang memegang bahuku terasa semakin erat, entah hanya pikiranku saja, atau memang seperti itu adanya, namun kurasakan dilenganku sepertinya menyentuh payudara tante Sandra yang tak menggunakan Bra itu. Sepertinya pikiran ngeresku mulai datang menggoda, sambil berjalan aku membayangkan lenganku yang menyentuh payudara Tante Sandra, memainkan dan meremas-remasnya.
Aku agak heran mengapa Om Herman lebih senang menempati bungalow yang berada di pojok ini, memang kalo dilihat tampaknya tempat ini lebih tenang daripada yang lainnya, namun apabila kita perlu sesuatu setidaknya kita harus berjalan cukup jauh. Ada 2 bungalow yang telah kami sewa, aku melihat kunci yang diberikan, kulihat no yang tertera pada gantungannya, berarti aku dan Tante Mala menempati bungalow sebelah kiri dan Om Herman dan Tante Sandra sebelah kanannya.

Aku melepaskan pegangan tangan Tante Sandra sambil mengacungkan kunci yang aku pegang, seolah memberitahukan padanya bahwa aku bermaksud langsung menuju bungalow yang disediakan untukku. Namun Tante Sandra seolah tak mau melepaskan pegangannya terhadapku dan berkata kepadaku bahwa sebaiknya aku menemaninya dahulu dibungalownya.
“Fan, kmu mau ngapain langsung ke Kamar ?, mending kamu di tempat Tante dulu, kamu belum ngantuk kan Fan ? sambil nunggu suami Tante dan Tante kamu, sebaiknya kamu temenin Tante Dulu ya ? kali aja kita bisa ngobrol dulu…” katanya kepadaku, sambil terus menggamitku ke arah bungalownya.
Memang dari arah kami berjalan, posisi bungalow Tante Sandra lebih dekat dibandingkan bungalowku. Akhirnya dengan berat hati aku mengikutinya, melangkah menuju bungalownya, membukakan kunci untuknya.

Kulihat tempat ini cukup luas, beranda depan dengan dihiasi taman, terdapat 2 kursi dan 1 meja kecil, tampak menyenangkan. Di sebelah dalam kulihat terdapat satu ruangan yang cukup luas, tanpa penyekat terdapat juga 1 sofa panjang beserta meja mungil, dan 1 tempat tidur yang cukup besar dengan seprei warna putih. Kulihat diruangan berAC itu juga terdapat kulkas yang biasanya telah terisi dan sebuah televisi berukuran 21 inch.
Setelah menyalakan lampu dalam ruangan, aku mulanya hendak berbalik, biar bagaimanapun ada perasaan tak enak bila aku harus tetap didalam, karena yang sedang bersamaku disini adalah jelas seorang wanita bersuami, dan rasanya kurang pantas bila aku berada bersamanya didalam ruangan dimana cuma kami berdua saja didalamnya. Tapi seperti mengerti akan keraguanku, tante Sandra malah menyuruh aku tetap didalam,
“Fan, kamu di dalam saja, diluar tidak enak, banyak angin, lagian tidak ada yang dilihat, kalo didalam kan kamu bisa menemani Tante sambil menonton Televisi” katanya kepadaku.
Aku seperti sulit untuk menolaknya, memang seperti tadi saat kami berjalan, kurasakan angin yang menerpa sangat kencang, mungkin karena saat ini adalah sedang musim kemarau dan kebetulan daerah disini adalah daerah yang berdekatan dengan pantai.

Aku menghempaskan pantatku disalah satu ujung sofa panjang yang terdapat di dalam ruangan itu, kuperhatikan sekeliling tanpa mengucapkan sepatah katapun, seolah mencari sesuatu ide ataupun benda yang bisa aku jadikan bahan penghilang kebisuan, entah itu koran, majalah, ataupun sesuatu yang bisa menjadi bahan pembicaraan. Entah apa yang harus kukatakan untuk memecah kebisuan disini. Untunglah Tante Sandra seperti mengerti akan keadaan, beliau menghampiri kulkas disana sambil membukanya, melihat kedalam sebentar dan menawarkan minuman kepadaku, “
Kamu mau minum Apa Fan ?, banyak minuman nih disini “ katanya.
Aku menjawabnya dengan segera
“Apa aja Tan, lagian saya belum haus kok, tadi kan baru “ kataku.
Tante Sandra seolah tak mendengar perkataanku, sibuk melihat seisi kulkas, kemudian dia berbalik ke arahku menyodorkan sekaleng minuman beralkohol kepadaku, “Ini aja Fan, lumayan buat menghangatkan tubuh” katanya lagi, aku mengambil kaleng minuman yang diangsurkannya, sebetulnya sejak lama aku tak pernah menyentuh dan merasakan minuman seperti ini, sewaktu masih di rumah orang tuaku dan masih senang nongkrong mungkin ini adalah minuman favorit aku. Namun semenjak aku tinggal di rumah Tante Mala, sekali pun aku belum menyentuhnya lagi.
Tante Sandra mengambil duduk disebelahku, karena memang di ruangan itu tidak ada tempat duduk lain selain disitu, kecuali kalau memang ingin duduk di sisi tempat tidur. Ia mengambil remote televisi dan menyalakannya. “Fan, kamu jangan pergi dulu ya, temani Tante sampai Om Herman dan Tante Mala datang, katanya sambil memandangku “Soalnya Tante kalo ditinggal sendiri disini, gak berani, kalo dirumah sih Tante berani, kan udah biasa” katanya lagi tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya tersenyum, sambil melihat ke arah televisi.

Aku melihat kearah jam ditanganku, sudah menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh, aku melirik ke arah keluar pintu, yang memang sengaja aku tidak tutup, karena biar bagaimanapun aku tidak ingin orang menyangka yang tidak-tidak kepada kami, apalagi aku takut kalau saja tiba-tiba Om Herman dan Tante Mala datang dan mengetahui kami berdua didalam kamar yang tertutup.
Seperti mengetahui kegalauanku, Tante Sandra akhirnya berkata, “duh Fan, biasanya kalau sudah melakukan cek barang, paling sedikit Om Herman bisa 2 – 3 jam baru selesai, yah mungkin sebentar lagi beliau datang, ya udah kita santai-santai aja dulu, kamu kalo mo ngapain, ngapain aja dulu, terserah, pokoknya kamu jangan ninggalin Tante” begitu kata-kata meluncur dari mulutnya. Aku hanya memandangnya sambil tersenyum, dan mengatakan bahwa aku tidak keberatan, lagipula jika aku berada dikamar sendiri, toh juga mo ngapain, kataku kepadanya, palingan juga sama dengan disini.
Aku memandangnya, kulihat ia asyik melihat acara televisi sambil sesekali meneguk minuman. Duh wanita yang sangat seksi menurutku, dengan bajunya yang berdada terbuka, indah sekali memandangnya, bibirnya yang menurutku sangat sensual, terutama saat bergerak mengucapkan kata-kata, indah sekali dilihat. badannya yang sangat montok, kencang, mungkin karena beliau belum pernah melahirkan, hanya dadanya yang sudah agak sedikit turun menurutku, entahlah, apakah mungkin karena beliau jarang sekali menggunakan Bra atau mungkin sang payudara sering dipakai sebagai alat pemuas sang suami, sehingga agak tertarik … hehehe…

Aku sepertinya lebih tertarik untuk melihat kearahnya daripada ke arah acara televisi, aku lebih banyak terdiam dan sesekali melirik ke arah luar, untuk melihat kalau-kalau Om Herman dan Tante Mala muncul. Pembicaraan antara aku dan Tante Sandra sesekali keluar, kadang terdiam cukup lama, kadang berbicara cukup panjang, tergantung pokok bahasan yang timbul. Entahlah, lambat laun kulihat beliau terlihat mengantuk, mungkin karena bosan ataupun memang saat itu sudah mendekati larut, Ia menguap dan berkata kepadaku
“Fan, tante udah agak ngantuk nih, pokoknya kamu tetap disini, jangan tinggalin Tante, Tante rebahan dikasur dulu ya Fan, kamu terserah mo dimana, mo disini sambil nonton tipi, atau mo ikut rebahan dengan Tante, yang jelas kamu jangan keluar dari kamar ini”. Aku tertegun sejenak, menatapnya dan tersenyum
“Iya Tante, Fandi tetep nemenin Tante kok, janji deh gak kemana2” kataku menjawabnya

Tante Sandra bangkit dari duduk disebelahku, berjalan kearah tempat tidur, membelakangiku. Namun tiba-tiba ia memegang bawah bajunya, mengangkatnya keatas, yang jelas membuat aku kaget dan terpana. “Fan, maaf ya, tante buka baju, abis gerah nih, gak enak kalo dibawa tidur, mana Tante gak bawa salinan lagi. Besok baju kalo dipake lagi kan bau, katanya sambil membuka baju dan menaruhnya dipinggiran ranjang. Jelaslah mau gak mau aku memperhatikan beliau saat itu, hanya dengan bercelana dalam saja, dengan bertelanjang dada, beliau melangkah, mengangkat kakinya, menjejakkan, merebahkan badannya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Aku menahan napas, berusaha menahan gejolak didadaku melihat pandangan seperti ini, pikiran ngeresku seolah mengaduk-aduk otakku, kulirik kembali pintu, memandang kearah luar, berjaga-jaga seolah-olah takut ada yang ikut menyaksikannya juga. Terdiam aku sejenak, berpikir keras, seakan mencari taktik jitu untuk melumpuhkan sang lawan. Mataku berkali-kali melirik ke arah depanku, kearah tubuh tante sandra yang tergolek, dan wajahnya mengarah ke tivi dan aku kemudian berpaling ke arah tivi untuk ikut melihat apa yang sedang di lihatnya, padahal pikiranku sedang kacau.

Semakin sering aku melihatnya, semakin membuatku kegerahan, sementara dedeku yang semula berusaha untuk tenang, menjadi terganggu dan berusaha berontak. Entah, dipikiranku yang kotor ini, sepertinya membayangkan, menghayalkan bahwa saat ini di depanku terdapat wanita paruh baya, yang cantik, montok, putih mulus berusaha menggodaku, membangkitkan hasrat seksualku. Berusaha membangkitkan kelaki-lakianku, memancingku untuk bersetubuh dengannya. Pandangan mataku semakin nanar, dan berkali-kali meneguk minuman beralkohol ditanganku, berusaha menetralisir keadaan dan minuman itu ternyata malah menimbulkan efek yang sebaliknya.
“Fan, kamu kalo ngantuk, rebahan aja disini, gak papa kok, sementara menunggu Om Herman dan Tante Mala datang” katanya sambil memandang ke arahku sekilas, mungkin karena melihat aku sepertinya akan rebahan dan sofa yang aku pakai tidak cukup muat untuk badanku berselonjor.
Padahal niatku saat itu adalah menselonjorkan badan hanya sekedar untuk membetulkan dedeku yang salah orbit.
“Iya Tante, gampang, gak papa kok, saya sekedar meluruskan badan, agak pening nih, mungkin lumayan tadi bawa mobil kesini” kataku bergumam entah ia mendengar atao tidak, yang jelas aku berusaha untuk bersikap jaim padanya.
Padahal sebetulnya aku mau sekali, namun hati kecilku sangat takut, takut dan khawatir seandainya nanti Om Herman datang dan melihatku berada diranjang berdua dengan istrinya,
“ah gila ah” membatin aku
Aku hanya diam, memandang ke langit-langit kamar ini, menutupi keningku dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku tetap memegang kaleng minuman, melayangkan pikiran entah kemana.
Beberapa lama kemudian, tiba-tiba kudengar langkah kaki berjalan mendekat, aku sontak bangkit, mendudukkan tubuhku, kupandang ke arah pintu keluar. Langkah kaki tersebut sepertinya berhenti sesaat, aku bangkit berdiri, berjalan ke arah pintu, berusaha mengetahui siapa gerangan yang datang. Kulihat diujung jalan yang mengarah ke bungalow kaki, seorang petugas keamanan hotel berdiri, mengarahkan pandangan sejenak, berkeliling untuk memastikan keadaan aman, kemudian melangkahkan kakinya lagi, berjalan menjauh.
Aku menghela napas, ternyata hanya security sini aja, aku kira Om Herman dan Tante Mala yang datang, aku berbalik tak sengaja pandanganku mengarah ke ranjang, kulihat Tante Sandra tergolek, pulas, sementara tanpa disadarinya dadanya menyembul keluar, menampilkan pesona keindahan tersendiri bagi yang melihatnya.
Dadaku berdegup kencang, menyaksikan pandangan tersebut, pikiran kotor yang sejak tadi menyerang otakku, kini semakin membuat keruh. Kupegang daun pintu disebelahku, kegerakkan untuk menutupnya, namun masih ada rasa kekhawatiran menyelimutiku sehingga aku hanya menutupnya sedikit, menyisakan 10 cm tetap terbuka. Kelangkahkan kakiku perlahan menuju ke arah pembaringan mematikan lampu tengah ruangan yang terang benderang, kemudian menyalakan lampu tidur disisi pembaringan yang redup dan menaruh kaleng kosong minuman yang kupegang dimeja sisi ranjangnya.
Kutatap wajah Tante Sandra, tampak pulas, namun keseksian dan kemulusan tubuhnya tetap memancar, wajahnya nan ayu dan cantik menggambarkan keanggunan yang mempesona. Berdegup kencang dadaku melihatnya. Kucoba untuk duduk disisi ranjang, tampak tidak ada gerakan sama sekali, seolah tak menyadari diriku yang berada didekatnya. Seakan-akan aku juga tak sanggup untuk menahan kantuk, kuarahkan pandanganku ke arah televisi yang menyiarkan acara entah apa, kurebahkan diriku disampingnya dan berpura-pura untuk tak perduli dengan keadaannya. Tante Sandra sepertinya terlelap layaknya bayi yang tertidur pulas.
Entah otakku yang semakin keruh dan miring atau hasratku yang semakin menggebu, sepertinya keadaan membuatku kalap. Kurebahkan sebentar badanku disisinya, memperhatikannya tergolek membelakangiku, timbul rasa isengku. Kudengar napas teratur yang keluar dibarengi dengan suara dengkuran halus, kugerakkan tanganku seolah-olah akan menggeliatkan tubuhku, dan dengan sengaja menyikut punggungnya untuk memastikan apakah Tante Sandra terjaga apabila ada gangguan. Dan ternyata hal itu berjalan dengan sukses.
Tante Sandra sepertinya tidak menyadari akan kehadiranku, kutarik selimut yang menutupi tubuhnya, memasukkan tubuhku kedalam selimutnya, seakan aku ingin ikut berlindung di dalamnya, bersamanya, menghindari angin malam dan rasa dingin yang menerpa.
Sepertinya beliau tidak sadar dengan apa yang terjadi, aku hanya terdiam, memikirkan langkah selanjutnya. Menarik napas perlahan, memasang telinga, mendengarkan kalau-kalau ada langkah mendekat.
Kegeser badanku merapat dengannnya, perlahan, tak ingin membangunkannya. Kurasakan bagian punggungnya yang bugil bersentuhan dengan lenganku. Tak ada gerakan menolak atau sikap menentang darinya. Pelan, keputar tubuhku kekanan menempel dengannya, seakan-akan aku juga tertidur pulas dan tak sadar menggelinjangkan tubuhku. Mengangkat lengan kiriku melewati punggungnya memeluknya dari belakang, perlahan melewati lengannya yang menyamping memegang guling. Sejenak aku menahan napas, telapak tanganku kini menyentuh payudaranya yang polos, dibalik selimut yang menutupinya.
Kesentuh payudara tersebut, hanya menyentuhnya, kemudian merabanya perlahan, mengusap-usapnya. Aku menunduk terpejam, tercium wangi harum dari lehernya yang menempel di hidungku. Seolah aku juga tertidur pulas dan tak menyadari apa yang kulakukan.
Aku tak tahu mengapa pikiran kotorku lebih banyak menguasaiku, apakah karena pancingan dari Tante Sandra yang mengena atau pengaruh minuman beralkohol yang kuminum.
Aku semakin beringas, aku yang mulanya hanya menyentuh, meraba payudaranya, kini mulai meremas-remas perlahan, menyentuh putingnya dengan jari telunjuk dan tengahku, menjepitnya dan memelintirnya. Membuatnya semakin keras dan memanjang. Dedeku yang berada didalam celanaku kini semakin tak terkendali berusaha berontak keluar, berusaha menempel ketat, sang empunya celana dalam.
Entah berapa lama ini terjadi, namun kedengar napas Tante Sandra semakin memburu, semakin tidak teratur, hingga tiba-tiba kusadari adanya gerakan darinya. Ia membalikkan badannya, yang semula berbaring menyamping membelakangiku, kini telah berbaring telentang. Aku terkaget dan diam sesaat. Tanganku yang semula sedang meremas-remas dadanya tehenti sejenak, namun aku tak mengangkatnya dari dadanya, apabila kuangkat dari dadanya aku takut mungkin ini malah membuatnya terbangun.
“Hmmm…Mas…” kudengar suaranya lirih, seperti mengigau, dan tak lama kemudian membuka matanya mengedip-ngedipkan matanya untuk sesaat.
Aku dengan segera memejamkan mataku, kembali berpura-pura sedang tertidur pulas padahal hatiku deg-degan setengah mati. Aku yang sedang berbaring disebelahnya dan tangan kiriku yang sedang nemplok didadanya, tetap menempel, menyentuh lembah nan indah itu, terpaku, terdiam menunggu kemungkinan yang akan terjadi. Dalam terpejamku, kudengar napas menghembus perlahan, seolah mencoba mengetahui siapa yang berbaring disisinya namun tidak ada sesuatupun yang terjadi hingga beberapa lama.
Kucoba membuka mataku, melirik kesamping, untuk mengetahui kesadaran akan keberadaan, kulihat disebelahku, Tante Sandra, masih terpejam nampak semakin pulas, malah kini wajahnya menghadap diriku, dengan tangan kanannya keatas kepalanya, membiarkan tanganku menyentuh payudaranya. Aku kini semakin tenang, kembali memasang telinga, bersikap waspada. Kembali meraba dada putih dan montok itu, menekan-nekannya, meremasnya, membuatnya semakin kenyal dan mengeras.
Aku menghembuskan napasku, meniupnya kearah wajah nan cantik yang terpejam di depanku, seolah menginginkannya mengetahui keberadaanku. Aku semakin berani dan nekad. Kuangkat kepalaku, berusaha mendekati dada nan putih dan montok itu, berusaha untuk mendekatkan bibirku, menjulurkan lidahku untuk mengecup lingkaran merah kecoklatannya. Kini posisiku seperti menelungkup disebelahnya, menikmati dadanya. Kuangkat perlahan kain tebal yang menyelimutinya, berusaha berada dibawah memposisikan pahaku menyilang pahanya, seakan mencoba mendekati dedekku ke arah tonjolan dibawah perutnya yang hanya ditutupi oleh celana dalam hitamnya.
Kini posisiku tepat berada diatasnya, yang hanya terdiam dan tak sadar akan apa yang terjadi. Memposisikan penisku diatas selangkangannya. Aku menarik celana panjangku sekaligus celana dalamku, hingga tonjolan pantatku terbuka sampai batas paha bawahku. Menempelkan dedeku pada celah selangkangannya, bertumpu pada kedua tanganku disisi kiri kanan tubuhnya. Merasakan penisku menempel di celana dalamnya, diantara selangkangannya, diantara kedua pahanya yang terbuka lebar.
Aku menggesek-gesekkan penisku dibawah tonjolan daging tersebut, menikmati sensasi, menghayalkan seakan2 penisku masuk kedalam rongga vaginanya. Meleletkan lidah seakan2 memberikan kenikmatan kepada wanita cantik dibawahku ini, sesekali aku menundukkan kepala, mencium puting yang kelihatan semakin menonjol dan mengeras, mengulumnya. Dan menggoyangkan pantatku kembali untuk memberikan sensasi pada dedeku ini.
Hingga beberapa saat, ketika kurasakan akan ada desakan keluar dari ujung penisku, ketika kurasakan akan adanya cairan yang akan melesak keluar, kehentikan kegiatan sejenak. Kupejamkan mata, kukerenyitkan mataku, kutahan dan kubendung air bah yang akan tumpah mencoba untuk mencegahnya keluar. Seperti ada kepuasan tersendiri ketika sensasi akan mencapai puncaknya. Kuhela napas tertahan, menggapai kemenangan.
Pelan-pelan aku mengangkat kaki, bergeser menjauhinya ke tepi pembaringan, duduk sejenak, menyelimuti tubuh dengan kain tebal yang tadi sempat terobrak-abrik, melangkah pelan ke arah sofa, membaringkan tubuh sejenak, menghembuskan napas, lega.
Memang kepuasan yang kudapat belumlah mencapai puncaknya, namun aku jelas sedikitnya dapat menikmati tubuh yang kini terbaring diranjang depanku ini. Ada rasa penyesalan, khawatir, takut seandainya tadi, tiba2 saat aku menggerepe tubuh Tante Sandra, Om Herman dan Tante Mala datang. Namun untunglah setan berpihak kepadaku.
Kulirik jam ditanganku, jam 12 lewat 35, ada rasa asam dibibirku, kubuka kotak bungkus rokok dimeja untuk mengambil isinya, kosong. Menggerutu aku dalam hati, biar bagaimanapun aku harus berusaha mendapatkan alat bakar ini. Kubangkitkan tubuhku, berjalan mendekati pintu, melirik sejenak kebelakang, ketubuh wanita yang kini tertidur pulas, menutup pintu rapat-rapat, berjalan keluar menuju tempat dimana tadi kami makan malam, sambil berharap mudah2an ada merk rokok yang menjadi favoritku tersedia disana.
Kulangkahkan kakiku kembali di keremangan malam, menunduk untuk memastikan tidak menginjak sesuatu yang membuatku tersandung, melangkah cepat menuju ke arah gerbang, memastikan bahwa kepergianku tidak memakan waktu lama.
Beberapa meter menjelang sampai, kulihat sinar lampu mobil memasuki area pintu gerbang, berhenti sebentar, membelok ke arah parkiran, mendekati arah posisiku berada. Aku seperti mengenal mobil itu, terdiam aku sesaat, aku memang yakin sekali, itu adalah mobil Om Herman mobil yang sama, yang tadi dipakai pergi dengan Tante Mala.
Aku diam sejenak, ragu, apakah aku hendak meneruskan langkahku, menyambut mereka, atau diam dan menunggu mereka saja, atau kembali ke bungalow tempat kami menginap. Di tempatku berdiri memang cukup gelap, sehingga sulit bagi orang lain mengetahui keberadaanku disini. Sedangkan ditempat parkiran walaupun dengan lampu yang tidak begitu terang namun cukup bisa melihat kearah sana dengan jelas.

Aku diam, berpikir sejenak dan akhirnya aku memutuskan untuk menyambut mereka walaupun aku merasa tidak enak bila nantinya ditanya mengapa aku meninggalkan Tante Sandra sendirian. Kuperhatikan mobil yang tadi masuk telah berada dalam posisi parkir, dengan hidung mobil menghadap keluar dan kini mesin mobil telah dimatikan. Aku perlahan dalam kegelapan berjalan menuju mobil tersebut, namun langkahku seperti tertahan sesuatu, mengagetkanku.
Kulihat kearah mobil tersebut, nampak didalam mobil, dibalik kaca depan, samar-samar namun cukup jelas, walaupun hanya diterangi oleh lampu parkir, Tante Mala dan Om Herman kulihat sangat mesra, kulihat keduanya berpelukan, berciuman dengan sangat panas, seakan tak menyadari dan tak peduli dengan keadaan sekitar, dadaku berdegup kencang, ada perasaan sakit, ada perasaan cemburu, melingkupiku.

Kulihat dengan mata kepalaku sendiri, tampak Om Herman, menciumi Tante Mala, meraba-raba dada tante Mala, menciumi payudaranya, dan sepertinya Tante Mala ikut menikmatinya.
Dadaku serasa panas, entah kenapa, mungkin merasa bahwa biar bagaimanapun wanita itu adalah Tante Mala, tante yang aku sayangi, yang aku harus lindungi. Namun keberanianku hanya sampai disini, seperti layaknya lelaki yang sedang jatuh cinta dan patah hati, melihat wanita yang dicintainya ternyata bermain cinta dengan wanita lain.
Lanjut…..

Aku membalikkan badan secepatnya, berbalik menuju bungalow, berjalan cepat, berusaha untuk tidak terlihat oleh keduanya. Entah apa yang ada didalam pikiranku saat itu, didadaku seperti sesak, tak rela, melihat Tante Mala berselingkuh dengan Om Herman. Sejuta pikiran berkecamuk didalam otakku, campur aduk, kakiku terus melangkah.
Tiba dikamar agak terengah-engah, berusaha mengatur napas, memekirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Kududuk di sofa yang berada didalam kamar, berpikir sejenak. Akhirnya kuputuskan untuk berbaring di sofa, berpura-pura untuk tertidur pulas, seakan tidak mengetahui apa yang terjadi.
Sengaja aku tak mengunci pintu kamar namun cukup hanya menutupnya rapat, seakan menunggu kedatangan tante Mala, memastikan bila beliau datang, beliau akan bisa masuk tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu, memastikan agar kedatangannya tidak mengganggu tidurku.
Kutunggu beberapa saat, lampu kamar sengaja kunyalakan dengan cahaya redup, hanya lampu tidur yang menyala, mencoba membaringkan diri, menunggu apa yang akan terjadi.
Mungkin beberapa menit telah berlalu, kemudian kudengar langkah-langkah kaki mendekat, dan disusul kemudian pintu kamar diketuk, aku diam tak beranjak, agar orang yang diluar menyangka aku tertidur pulas, selanjutnya kudengar pintu kamar dibuka, Melihat kearah dalam, dna mungkin melihatku tertidur disofa, terdengar pembicaraan tante Mala dan Om Herman, seperti mengucapkan selamat malam berpamitan, dan pintu kembali ditutup, kulirik dalam keremangan Tampak Tante Mala, memasuki kamar, menjinjing tas, menaruhnya di ranjang dan melihat ke arahku.
Aku berpura-pura kaget melihat kedatangannya, bersikap seolah baru bangun dari tidur, mengucek-ngucek mata, dan berkata padanya
“Udah pulang Tan, udah lama ?, maaf ketiduran, gak tau Tante Mala pulang”, kataku sambil berpura-pura menguap,
“Iya Fan, baru aja nyampe, tadi diketuk-ketuk, sepertinya kamu gak denger, jadi tadi Tante buka pintu, untung kamu gak kunci” katanya seperti menjawabku,
“Fan, kamu tidur aja disini ama Tante, di sofa dingin, disini aja, biar bisa pake selimut “ katanya lagi kepadaku, aku mengiyakannya namun tidak menjawabnya dan seolah-olah akan melanjutkan tidur.
Kulihat tante Mala membuka tas yang ada di atas ranjang, aku menggerutu dalam hati, karena jelas ia mengeluarkan baju dari dalam tas tersebut, dan berjalan melangkah ke sisi salah satu ranjang untuk mengganti baju yang dinakakannya, aku meliriknya sekilas dan membalikkan badanku ke arah sandaran sofa, memalingkan muka seolah-olah tak ingin melihatnya berganti pakaian didepan mataku.
Dalam hati aku menggerutu, jelas aja beliau membawa pakaian salin, sedangkan aku, hanya bermodalkan baju yang menempel dibadanku saja, untung saja aku biasanya memaka celana double, dengan celana pendek didalam celana panjangku, kebiasaan dari kecil dulu, memakai celana lapis tiga, yaitu kolor, celana pendek dan celana panjang, sekalian untuk berfungsi menutupi tonjolan diselangkanganku dan ditambah baju lapis dua, baju daleman, singlet da kemeja, lumayanlah kalo keadaan genting seperti ini kadang bisa berguna, dibuka pakaian luarnya agar besok bisa dipakai lagi dalam keadaan tidak lecek atau kusut.
Memang aku mulanya tadi berencana untuk membuka pakaian luarku, namun dalam keadaan yang genting tadi, mana sempat, belum lagi udara pantai dengan angin yang cukup kencang membuatku kedinginan jika harus memakai celana pendek dan kaos singlet saja. Kudengar langkah kaki mendekatiku, memegang lengan bahuku, tangan tante Mala,
“Fan, dingin… tidur di ranjang aja sama Tante” kudengar suara halus dikupingku, aku membalikkan badan
“Iya Tante, gampang nanti Fandi tidur disana, sekarang disini aja dulu” kataku berusaha menampik ajakannya.
“Iya ya Fan, nanti tidur disini..gpp kok, daripada kamu masuk angin kedinginan kan ditempat tidur bisa pake selimut berdua” katanya lagi.
Aku mengiyakannya sambil tetap merebahkan badanku di sofa seakan malas untuk bangun.
Kulihat tante Mala berjalan menuju ranjang tempat tidur, dengan baju tidurnya yang berwarna merah, dengan belahan dada rendah, duduk disisi ranjang, aku melihatnya dalam keremangan lampu kamar, memacingkan mata untuk melihatnya agar lebih jelas. Aku menutupi mukaku dengan pergelangan tanganku seolah untuk menyembunyikan mataku agar beliau tidak tahu aku memperhatikannya. Seperti biasa kulihat beliau mengenakan baju tidurnya tanpa mengenakan bra bahkan mungkin juga tidak menggunakan celana dalam seperti biasa. Kulihat wajah beliau sepertinya lelah, melihat kearahku dan seperti orang yang sedang melamun.
Entah apa yang dipikirkannya, namun kulihat ia seperti orang yang bingung, merenung dengan kegalauan hati, melihat kearahku seperti mengharapkan aku bangun dan dapat berbicara dengannya. Aku diam seolah menunggu reaksinya, berpura-pura mendengkur halus.
Kulihat tante Mala membuka baju tidur bagian atasnya, melihat kearah dadanya dan seakan-akan memeriksa keadaan payudaranya yang indah itu. Aku bergumam dalam hati, pasti beliau memeriksa payudaranya untuk memastikan apakah ada lecet ataupun bekas-bekas yang menempel dipayudara beliau setelah tadi mungkin dijadikan mainan oleh Om Herman. Ada perasaan kesal dalam hatiku, entahlah.
Kulihat Tante Mala menghela napas beberapa kali, kemudian merebahkan badannya di ranjang. Memegang ujung selimut dibawah kakinya, kemudian menariknya keatas, menutupi tubuhnya. Padahal aku mulanya berharap beliau untuk tidak membawa baju salin dan tidur di ranjang itu tanpa busana, duh seandainya.
Beberapa lama aku terdiam, memikirkan semua kejadian-kejadian ini, dan kulihat tante Mala yang biasanya langsung tertidur pulas, apalagi dalam keadaan yang sangat capek dan letih, ternyata ini tidak. Kulihat beliau beberapa kali membalik-balikkan badannya, seperti orang gelisah dan tidak bisa tidur, aku memperhatikannya beberapa kali dan sampai berapa lama, dan mungkin karena kulihat seringnya beliau membolak-balikkan badannya, baju tidur yang dikenakannya sudah merayap keatas, sehingga kulihat badannya dari dada kebawah sudah terbuka polos.
Pemandangan yang kulihat sekarang sepertinya malah menggoda pikiranku, entah, diotakku kini malah menjadi kotor dan ngeres. Aku berpikir dan membayangkan kejadian tadi, aku dengan Tante Sandra yang kucoba untuk menyalurkan hasrat seksualku namun aku menahannya agar tidak keluar, dan aku membayangkan persetubuhan yang mungkin telah dilakukan oleh Tante Mala dan Om Herman, dan itu jelas membuat pikiranku semakin miring dan membuat dedeku makin menegang dan keras.
Setelah beberapa lama, kudengar bunyi napas teratur diiringi dengan dengkuran halus, pikiran iblisku seperti melesak kedalam otakku, membujukku untuk memanfaatkan kesempatan yang ada.
Aku terdiam beberapa saat, guna memastikan situasi dalam keadaan aman dan terkendali. Bangkit dari tidur, duduk sejenak di pinggiran sofa, dan kemudian berjalan menghampiri tempat tidur.
Berjalan pelan tanpa suara, seperti berjinjit, kuperhatikan dari sisi tempat tidur, tampak Tante Mala pulas, dia yang tadi kulihat gelisah menjelang tidur kini seperti bayi yang tampak tertidur pulas. Kulihat pakaiannya sudah kemana-mana, tampak pantat montok, putih mulus halus solah menantangku untuk mendekapnya.
Turun naik napasku melihat pemandangan indah didepan mataku, kutahan dan kuhembuskan napas sejenak, berpikir untuk memastikan bahwa situasi dibawah kendaliku. Aku duduk dipinggiran sofa, memastikan dengan gerakan tubuhku tidak membuat mangsaku menjadi waspada. Aku melucuti pakaianku, membuka celana panjang, menariknya keluar, membuka kemeja dan kaosku, berurutan dan dengan hanya bercelana pendek aku merebahkan diriku disamping Tante Mala.
Aku berpikiran toh kalaupun Tante mala terbangun dan mendapati diriku tidur disampingnya, aku sudah mendapat lampu hijau darinya, jadi menurutku keadaan sudah aman dan terkendali, aku merapatkan diriku dibadannya, seakan ingin memberinya kehangatan dalam dinginnya malam. Seperti yang sudah-sudah aku mulai berani memepetkan dedeku di garis belahan pantatnya. Menempelkannya erat seakan ingin memberi sensasi yang lebih.
Entah darimana datangnya keberanianku seakan jauh melampaui, mungkin karena aku merasa bahwa aku adalah orang dekatnya, seharusnya aku mendapat jatah lebih dari pada yang didapatkan Om Herman.

Entah seakan pikiran gelap dan kosong tanpa ada rasa takut atau khawatir seperti yang sudah-sudah, aku berpikir apabila Tante Mala kusetubuhi sekalipun beliau tak akan menolaknya, walaupun beliau nanti marah, aku sudah mempunyai senjata untuk menghadapinya, mungkin aku akan mengadukan perselingkuhannya dengan Om Herman kepada OM Mirza. Dari pada hal tersebut diketahui oleh suaminya lebih baik beliau menuruti keinginanku. Senyum penuh kemenangan tampak tergambar diwajahku.
Perlahan aku membuka celana pendekku, sekaligus membuka celana dalamku, kini aku sudah dalam keadaan polos, bugil tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhku. Duduk aku disisinya, memandangnya, melihat kearah bongkahan pantat yang mulus dan montok di depanku, hanya tertutup sebagian oleh selimut, seolah mempersilahkan aku untuk menikmatinya.
Perlahan aku menghampiri pantat mulus itu, melihatnya, menganguminya, merabanya sejenak, seakan memberi tahu kepada pemiliknya untuk mengijinkan aku menikmatinya.
Aku menggeser pantatku, memasukkan kakiku agar ikut masuk kedalam selimut yang dipergunakannya, mengocok-ngocok penisku yang tadi menegang agar semakin tegang dan mengeras, menempelkannya kebelahan dalam didepannya, mencari celah agar dapat dimasukinya.
Pelan dan tanpa suara, kugapai rongga yang berada diselangkangannya, menempelkannya kedalam celah sempit diantaranya, menerobos masuk untuk menggapai kenikmatan yang lebih. Menggesek-gesekkannya perlahan, menahannya sebentar dan kembali menggesek-gesekkannya agar kenikmatan yang didapat lebih puas.
Tante Mala seakan tak terpengaruh oleh aktifitas yang dilakukan olehku, tetap tertidur pulas, namun sedikit kudengar ada napas memburu, tak teratur, seakan turut menikmati apa yang kulakukan, aku terus menggoyang-goyangkan pantatku mundur maju, seolah menyuruh penisku menikmati kesempatan, tanpa suara.
Namun aku membayangkan seakan-akan tante mala turut mengimbangi permainanku, turut bergoyang untuk mendapatkan kenikmatan yang kuberikan, kudesak-desak penisku agar lebih masuk kedalam rongga vaginanya yang telah basah, mungkin beliau saat ini bermimpi sedang bersetubuh dengan Om Mirza ataupun Om Herman, aku tak peduli, yang jelas saat ini, tubuh montok, halus, mulus, putih ini berada dalam dekapanku.
Kupeluk beliau dari belakang, sambil aku terus menggoyang-goyangkan badan agar penisku tetap menikmati kepuasan, memegang payudara montok, putih dan besar itu dari belakang, meraba-rabanya dan meremas-remasnya, pelan, perlahan, keras dan maki keras. Seolah-olah aku melakukan gaya doogy style seperti yang sering kulihat di film biru yang sering kusewa. Entah berapa lama sensasi ini terjadi, beberapa belas menit kemudian, mungkin karena baru kali ini aku mengalami hal seperti ini, memasukkan penisku dari belakang, sehingga himpitan penis kurasakan lebih mencengkeram.
Belum lagi ditambah dengan kejadian sebelumnya, dengan Tante Sandra yang sepertinya membuat spermaku sudah berada diujung, waktu terasa sangat cepat, membuatku ingin memuntahkan lava panas dari ujung penisku, tak kuasa aku menahannya. Kutarik cepat penisku dari lobang kewanitaanya, ketika serasa ada denyut melanda batang kelaki-lakianku, kutarik selimut yang berada untuk menutupi tubuh kami berdua, kupegang penisku dan kututupi dengan selimut dan segera kumuntahkan spermaku kedalamnya, membuatnya basah dan lengket.
Kuhembuskan perlahan napasku, seakan kenikmatan dan kepuasan telah aku raih, kulirik tante mala disebelahku, tampak tertidur pulas, namun kini beliau nampak bercahaya, seperti ada minyak yang mengkilati tubuhnya, mungkin sebagian keringatku menempel dibadannya. Aku tersenyum penuh kemenangan menatapnya. Perlahan aku mengambil celana pendek dan celana dalamku, memakainya, merebahkan kembali badanku disampingnya, memandang langit-langit kamar dengan pikiran kosong, dan tak berapa lama terlelap.
Terbangun aku karena udara panas serasa menyengat tubuhku, menggeliat-geliatkan badan sejenak, berusaha melengkapi semua nyawaku agar tersadar dengan alam sekitar. Kukejap-kejapkan mataku, melihat ke arah dinding, jam 11 siang !, hampir tengah hari. Kulihat sekeliling, tak ada siapa-siapa, sambil menatap langit-langit kamar, kuingat-ingat kejadian semalam, tersenyum, dan itu mengingatkanku akan seseorang, kemana Tante Mala ?
Dengan kamar sebagus ini, rasanya sayang jika harus cepat-cepat meninggalkan ruangan, ingin rasanya aku kembali tidur, namun ada perasaan tak enak menyelimutiku, ingin mengetahui kemana gerangan Tanteku. Bangkit aku dari tempat tidur, duduk dipinggiran sofa, tak sengaja mataku menatap secarik kertas, ada tulisan disana, kuhampiri, kuambil dan kubaca
“Fan, Tante pagi ini pergi ke kantor pelabuhan dengan Om Herman, kamu tunggu aja disini, temenin Tante Sandra. Mungkin Tante kembali sore, nerusin kerjaan yang semalam, T. Mala” demikian tulisan pada kertas putih kecil itu terbaca.
Aku mengdengus perlahan, mengingat kejadian semalam, dimana Tante Malaku dan Om Herman tampak sangat mesra, seprti layaknya orang yang berkasih-kasihan, ada rasa sebal, kesal bila mengingat semua itu, namun aku seperti layaknya anak kecil yang tak mampu berbuat apa-apa. Terdiam aku sejenak, namun akhirnya aku putuskan untuk menyegarkan badan, mandi.
Selesai mandi, mulanya aku memutuskan untuk diam saja seharian di kamar bungalow ini, mengistirahatkan badanku, menonton tivi, apa saja sambil menunggu kedatangan Tante Mala, namun karena kulihat hari masih panjang, ada rasa bosan menghampiriku, akhirnya aku memutuskan untuk keluar, ke bungalow sebelah, untuk melihat atau menengok keadaan Tante Sandra.
Hmm…, Tante Sandra, aku jadi ingat kejadian semalam, dimana aku menggerepe dan menggumuli badan Tante Sandra, ada rasa berdesir dihatiku, ingin merasakan lagi. Ada rasa takut dan khawatir jangan-jangan tante Sandra tahu apa yang kulakukan semalam terhadapnya. Namun dihati kecilku yang lain ada keyakinan bahwa hal itu aman-aman saja.
Dari pintu bungalowku, kulihat bungalow Tante Sandra tampak tertutup rapat, membuatku berpikiran, adakah orang didalamnya, namun rasa keingintahuan membuatku melangkahkan kaki, setelah mengunci pintu bungalowku. Kuketuk perlahan pintu kamar bungalow tersebut, tidak ada sahutan dari dalam, tapi sayup-sayup kudengar seperti ada suara air memancar, kupikir pastilah Tante Sandra sedang berada dikamar mandi, mungkin tidak mendengar ketukan pintu ini.
Kubuka perlahan pintu, benar, ternyata tidak dikunci, kupangggil-panggil nama Tante Sandra,
“Tan.. Tan…” sambil melongokkkan kepalaku kedalam bungalow tersebut. Kulihat tak ada seorangpun disana, namun terdengar suara sahutan dari dalam, diiringi dengan suara air memancar.
“Iya… Siapa ? Fandi ya ? .. Masuk aja Fan, Tante lagi mandi dulu” sahutnya.
“Iya Tan, ini Fandi, ya udah tante mandi aja dulu, biar Fandi tunggu diluar” jawabku lagi, Aku memutuskan untuk menutup pintu kembali, dan menunggunya duduk dibangku luar bungalow, namun tiba-tiba kudengar lagi suara dari dalam. “Di dalam aja Fan, ga papa kok, Tante gak lama ini, kalau kamu mau minum atau apa, ambillah sendiri, diluar panas” kudengar suara Tante Sandra.
Aku diam sejenak, dan akhirnya kuputuskan untuk menunggunya di sofa di dalam ruangan kamar tersebut.
Aku duduk, memandang keliling ruangan dalam tersebut, kulihat meja masih dalam keadaan acak-acakan, terdapat sisa-sisa minumanku semalam, nampaknya belum dirapihkan dan dibereskan, sama seperti ruangan bungalowku serta yang membuatku tersenyum adalah kulihat seprei nampak acak-acakan dan itu membuatku teringat akan kejadian semalam, hingga tanpa kusadari dedeku ikut tersenyum, manggut-manggut dan mengeras.
Kuarahkan pandanganku kearah depan, ke arah sumber suara air, mataku seakan berhenti menatap, kulihat nampak pintu kamar mandi terbuka lebar, aku bertanya2 dalam hati, apakah Tante Sandra lupa untuk menutup pintunya atau memang sengaja ia buka, sehingga walaupun dari samping aku bisa melihat sedikit ke arah dalam, dan mungkin apabila aku bergeser sedikit saja, mungkin aku bisa melihat lebih jauh kedalam kamar mandi.
Pikiran isengku mulai timbul, ada rasa ingin tahu yang lebih mendalam, rasa penasaran, untuk melihat Tante Sandra mandi, entahlah seperti kakiku menyuruh melangkah, untuk melihat lebih jauh, daripada sekedar mendengar bunyi air memancar.
“Tan, minta minum ya ?” teriakku, jelas kutujukan kepadanya, namun tak kudengar jawaban apa-apa, aku menghampiri sedikit pintu kamar mandi, dari arah samping, sedikit menengok ke arah dalam.
Mataku sejenak terpaku, kulihat ke arah dalam tampak Tante Sandra sedang berdiri di atas bathtub, nampaknya beliau kulihat seperti sedang memutar keran dan menikmati air yang memancar ke tubuhnya. Terbelalak aku menyaksikan tubuh putih cantik, telanjang bulat, dengan cahaya yang cukup terang, sepertinya sengaja menyuguhkan kepadaku tontonan yang membuat hatiku deg-degan, dari tempatku berdiri, walaupun cukup jauh, namun terlihat jelas.
Tante Sandra seolah cuek dengan keadaanya, tak malu-malu untuk bugil meskipun beliau tahu ada orang lain di dekatnya, nampaknya beliau sudah terbiasa akan hal ini. Namun jelas buatku tidak, otomatis pikiran ngeresku keluar, seolah tak ingin melepaskan pemandangan indah ini. Di hatiku seakan ada dorongan kuat, untuk menerobos masuk, dan dihati lain ada rasa takut, jangankan menerobos masuk, ketahuan aku mengintipnya aja, ada rasa tak enak.
Akhirnya aku memutuskan untuk diam dan menunggunya, aku duduk dan menyalakan televisi, sengaja aku bergeser lebih ke dalam, sehingga dari tempatku duduk, dan melihat ke kaca ruangan, aku masih dapat mengintipnya mandi.
Sambil melihat ke arah televisi, aku melirik ke dalam kamar mandi, kulihat tampaknya beliau sudah selesai, menggosok-gosokkan badannya dengan handuk dan kemudian membungkusnya. Namun ada hal yang membuat aku aneh, adalah sepertinya beliau tidak peduli dengan payudaranya, Tante Sandra tidak menutupinya dengan handuk, beliau hanya melilitkan handuk sebatas pinggang kebawah saja, tidak seperti layaknya perempuan kebanyakan, jelas ini membuat mataku makin melotot.
Tante Sandra sepertinya sengaja memancing-mancing diriku untuk memperhatikannya, untuk memperhatikan dan menikmati buah dadanya yang indah, menggantung, besar. Seakan berkata kepadaku,
“Fan, bagus gak tetek Tante, coba deh kamu pegang2, bagus dan masih kencang kan ?”, duh, seandainya dia berkata begitu, jangankan disuruh pegang, mencium, meremas dan melumatnya pun aku mau… hehehe… ngarep.
Tak lama beliau keluar dari kamar ganti, dengan cueknya, seakan-akan tidak ada aku disitu, beliau berjalan, melenggang, melewati depanku, tersenyum dan melangkah menuju kaca didekat pembaringan. Mengambil pakaian di koper, memakai Bh-nya, sambil terus menatap kaca didepannya, seolah tak perduli bahwa aku memandangi dan memperhatikannya.
Rambut panjangnya yang lurus tergerai, basah, menggambarkan kesegaran dari yang empunya, membuatku makin bergairah, cantik dan seksi sekali Tante Sandra. Aku hanya menatapnya penuh takjub, ingin sekali aku menyentuhnya, merabanya dan memeluknya. Namun tak ada keberanian dari diriku. Aku membayangkan, bagaimana seandainya aku nekat untuk memeluknya, dengan paksa, mencium lehernya, menjamahnya, meraba2 payudaranya dan memaksanya untuk bersetubuh denganku, marah gak ya ?
aku hanya terdiam, tak ada keberanian untuk itu, berpaling ke arah televisi, kulihat Tante Sandra berdandan, cantik di siang bolong seperti ini, dan seperti ingin memecah kesunyian, aku berkata kepadanya,
“Tan, maaf semalem Fandi ngantuk banget, jadi Fandi pindah ke sebelah “, kataku kepadanya.
“Oh Ya Fan, gpp, lagian juga sama, Tante ngantuk banget, sampe gak Tau Om Herman pulang, kamu bangun jam berapa Fan ? tadi tante lihat kamu gak keluar-keluar..” jawabnya lagi dan sambil memandangku.
Bertatapan dengan matanya membuatku malu, aku menundukkan kepala, seolah menghindari sorotan matanya, takut dia akan menanyakan kejadian semalam yang membuat dirinya basah. Aku menjawabnya bahwa aku sepertinya semalam lelah sekali, sehingga aku tidur terlelap, dan membuatku bangun kesiangan. Jelas aja, wong semalem aku kerja keras sendirian, heheheh…
Tante Sandra menanyakan kepadaku apa rencanaku hari ini, sambil menunggu Tante Mala dan Om Herman kembali, aku hanya mengangkat bahu dan mengatakan bahwa aku mungkin hanya tidur2an saja dikamar dan mungkin keluar untuk mencari baju salin sebagai pengganti bajuku yang mungkin sudah bau dan lecek ini. Beliau nampaknya antusias dengan jawabanku, Tante Sandra berkata kepadaku bahwa ia ingin ikut, sekalian melihat-lihat dan barangkali ada sesuatu yang dapat dibeli, dan aku mengiyakannya.
Selesai berdandan, beliau hari itu memakai baju kaos ketat, berbelahan dada sangat rendah, dengan rok mini ketat, layaknya seorang remaja, aku hanya tersenyum melihatnya, cantik dan seksi sekali, beliau mengatakan kepadaku bahwa berangkatnya setelah makan siang saja, mudah-mudahan sudah tidak panas katanya.
Seperti yang telah disepakati, akhirnya kami berangkat keliling kota, aku memang berniat mencari pakaian pengganti, terutama pakaian dalamku, yang dari kemaren aku tidak ganti, malah sekarang udah aku pakai Side-B nya, lumayanlah biar gak gatel. Kalo aku tidak menemukan penggantinya, wah parah nih, bisa balik ke Side-A lagi kaya kaset didengerin terus, biar cepet hapal.
Aku menggunakan mobil Tante Mala yang kupakai kemarin, karena kali ini kami berdua saja, maka Tante Sandra duduk disebelahku, duh, cantik sekali, dengan kaos warna coklat berbelahan rendah, jelas banyak orang yang menatap iri kepadaku, seperti pada saat kami makan di restoran tadi, jelas hal ini juga makin membuat otakku pusing tak karuan.
Kami berputar-putar mengelilingi pusat kota, ke pusat perbelanjaan yang tidak banyak disana, tidak ada mall seperti yang kubayangkan, hanya sebuah pasar tradisional, mulanya aku ragu untuk turun dan membeli keperluanku, aku takut kalo Tante Sandra ikut turun dan menjadi tontonan orang dengan pakaian seperti itu, mungkin akan banyak pria-pria iseng yang menggodanya, bersiul nakal. Namun akhirnya kekhawatiranku tidak terjadi, Tante sandra mengatakan kepadaku bahwa ia hanya akan menungguku dimobil saja, sementara aku berbelanja.
Setelah mendapatkan barang yang aku cari, aku kembali menuju mobil, kulihat Tante Sandra setia menungguku, padahal aku cukup lama juga mencari barang yang kuinginkan. Aku menanyakan kepadanya, kemana lagi kami menuju, hari masih siang sedangkan Om Herman dan Tante Mala mungkin akan kembali sore. Kami berpikir sejenak, hendak keliling lagi, sepertinya kota ini tidak ada apa-apa lagi yang enak untuk dikunjungi, mencari tempat makan, kami barusan aja makan, akhirnya setelah cukup lama berpikir, kami memutuskan untuk mengarahkan kendaraan menuju kantor Om Herman, mungkin kami bisa lihat-lihat kesana, dan membantu bila diperlukan.
Kulirik jam dipergelangan tanganku, waktu menunjukkan beberapa menit kurang dari jam 2 siang, perlahan aku melajukan mobil ke arah pelabuhan, tempat dimana gudang penyimpanan produk usaha Om Herman berada. Seperempat jam kemudian kami telah sampai, memasuki gerbang pelabuhan menanyakan dimana lokasi gudang berada, menyusuri pingiran laut dengan baunya yang khas tercium sejak kami memasuki lokasi ini. Kulihat sebuah gedung layaknya perkantoran disana, hari ini memang hari libur, jadi tidak banyak kegiatan disana, kulihat mobil Om Herman terparkir di salah satu pinggiran gedung. Heran aku dengan keadaaan sekitar, ada perasaan tak enak, karena tidak kulihat seorangpun yang berada di sekitar gedung tersebut.
Aku memarkirkan mobil agak jauh memang dari lobby gedung, karena hanya sebatas inilah mobil yang kukendarai harus berhenti, beberapa puluh meter dari pintu gedung. Dari parkiran mobil kami berjalan menuju ke lobby dan ke dalam gedung, untunglah Tante Sandra sering kesini dan mengetahui ruangan mana Om Herman biasanya bekerja. Tak ada seorangpun di lobby gedung, jadi kami terus saja melangkah menuju dimana ruangan Om Herman berada.
Berjalan melewati lorong-lorong, untunglah ruangan Om Herman berada dilantai bawah, jadi kami tak perlu capek-capek untuk menaiki tangga di hari yang panas ini. Didalam gedung serasa dingin menghantar, AC sentral yang terpasang diseluruh ruangan gedung, sepertinya tidak dimatikan, sehingga seluruh gedung terasa sejuk.
Beriringan aku dan Tante Sandra melangkah, tangan Tante Sandra seperti biasanya, bergelayut menggamit di lengan bahuku. Sepi sekali gedung ini, beberapa langkah kami mencapai pintu ruangan kerja Om Herman, kudengar seperti ada suara-suara berbicara. Tante Sandra menempelkan telunjuknya di bibirnya, memberi isyarat kepadaku agar tak bersuara, ia membisikkan kata-kata di telingaku bahwa ia akan mengagetkan keduanya, memberi surprise katanya.
Kami melangkah pelan, seperti berjinjit agar tidak bersuara, pelan2, kami berjalan menuju pintu yang dimaksud. Ketika beberapa langkah menjelang, suara-suara yang kudengar seperti orang berbicara tadi, sepertinya bukan merupakan rangkaian kata-kata layaknya orang berbicara, namun yang kudengar semakin jelas adalah bahwa itu merupakan suara desahan dan lenguhan halus dengan disertai jeritan-jeritan kecil.
Aku menghentikan langkahku, memegang lengan Tante Sandra, berusaha menghentikan langkahnya, menyuruhnya diam. Tante Sandra juga sepertinya menyadari akan hal ini, beliau diam, terpaku, sedikit pucat, berdiri mamatung.
Aku terdiam sejenak, berpikir cepat, dan ingin segera memastikan apa yang sedang terjadi diruang itu. Aku memandang Tante Sandra, memintanya untuk diam ditempat, sementara aku menghampiri ruangan itu, dengan melangkah pelan, berjinjit tanpa suara, aku menghampiri jendela yang tertutup gorden, berusaha mengintip dari celah-celah gorden untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
Terbelalak aku melihat kedalam ruangan tersebut, dari celah gorden tempat aku berdiri mengintip, kulihat di sofa ruangan tersebut, tampak Tante Mala sedang duduk dipangku oleh Om Herman, kulihat Tante Mala duduk dengan mengangkangkan kakinya di kedua paha Om Herman, sepertinya keduanya sedang bercumbu hebat.
Terpana aku sesaat, kembali wajahku kuarahkan ke Tante Sandra, seolah ingin memberitahukan kepadanya apa yang terjadi, dan kulihat wajah Tante Sandra seperti menunggu kabar dariku. Aku kembali memalingkan muka, memandang ke arah celah gorden ruangan, melihat pemandangan dibalik kaca, memastikan apakah yang kulihat ini benar2 terjadi.
Kuperhatikan beberapa saat, tampak Tante Mala turun dari sofa, membuka bajunya, berbalik dan kembali duduk dipangkuan Om Herman, kali ini posisi duduknya adalah menghadapku, memunggungi Om Herman, duduk diatas pangkuannya. Pantatnya turun naik, sementara Om Herman tampak mendesis-desis sambil memegangi dan meremas payudara Tante Mala.
Sesaat aku terpana, ingin terus menyaksikan tontonan live ini, namun tanpa kusadari disebelahku telah berdiri Tante Sandra, berusaha mengintip dan ingin melihat apa sebenarnya yang terjadi.
Tersadar aku akan keadaan, ngeri jika memikirkan apabila tiba-tiba saja Tante Sandra melabrak masuk, mendobrak pintu, maka mungkin akan terjadi pertempuran besar. Aku bergegas menggamit lengan Tante Sandra, menariknya, melangkahkan kakiku menjauhi ruang tersebut. Berjalan cepat menuju luar gedung, menuju dimana mobil kami diparkir, menyuruhnya masuk kedalam mobil dan menjalankan mobil secepat yang aku bisa, menjauhi tempat itu.
Sepanjang perjalanan, aku hanya terdiam, memperhatikan Tante Sandra yang duduk disebelahku, terpejam dengan kepala tersandar. Ada rasa campur aduk tak karuan melihatnya, memikirkan apa langkah selanjutnya. Blank rasanya otakku, aku hanya terpaku menatap jalan di depanku, mengarahkan kendaraan melaju entah kemana, hati kecilku hanya dapat mengucap
“Aduh Tante……Aduh…..”
“Loh Tan, udah pulang ?, kirain siapa “ kataku sambil tersenyum kepadanya, namun tidak ada balasan senyuman yang kudapat darinya, ia hanya melihatku dengan pandangan biasa saja, kemudian dari mulutnya keluar kata-kata
“Fan, kita pulang sekarang, kamu siap-siap, sekarang juga kita pulang”. Aku terdiam sambil memandangnya, ada pertanyaan yang akan aku tanyakan kepadanya, namun sulit sekali aku mengucapkannya, karena kulihat wajah Tante Mala sepertinya tanpa ekspresi dan tampaknya ingin aku menurutinya tanpa banyak bertanya.
Aku bergegas merapikan bajuku, membereskan dandananku, tanpa banyak cakap, memeriksa seisi kamar takut-takut ada yang tertinggal atau terlewatkan. Setelah memastikan semua beres, aku membantu membawa tas kecil Tante Mala, mengatakan padanya bahwa semuanya telah siap, dan berjalan mengikutinya keluar.
Kuperhatikan Tante Mala, wanita cantik yang kukagumi, tampak bergegas melangkah. dengan dandanan baju hitamnya yang seksi, dengan baju terusan yang berbelahan rendah, aku hanya meliriknya sekilas sambil menelan ludah. Sambil melangkahkan kakiku, menuju areal pelataran parkir, banyak pertanyaan menghiasi otakku.
Didalam mobil yang kukendarai, beliau juga tidak banyak cakap, hanya sesekali bergumam, memastikan apakah mobil dalam keadaan laik jalan, sudah cek air, oli atau bensin cukup untuk digunakan sampai tujuan, dan aku hanya menjawabnya juga ala kadarnya. Ada apa dengan Tante Mala, ia terlihat tidak seperti biasanya, tidak ceria dan banyak tersenyum seperti Tante Mala yang kukenal selama ini.
Apakah sebenarnya yang terjadi ? apakah beliau saat ini sedang berada dalam posisi yang tidak mengenakkannya ? apa yang telah terjadi saat aku mandi ? ataukah apa yang terjadi saat Tante Mala dan Om Herman dalam perjalanan pulang dari kantor Om Herman ? Apakah Tante Sandra melabrak Om Herman kemudian berimbas kepada Tante Mala ? Apakah Tante Mala mengetahui bahwa kami, aku dan Tante Sandra telah memergokinya berselingkuh dengan Om Herman ? Lalu mengapa Tante Sandra tidak ikut kembali dengan kami ? ada apa dengannya ? masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu dipikiranku, namun tak ada keberanian dari diriku untuk bertanya kepadanya.
Kulirik jam ditanganku, jam setengah delapan kurang, kalau perjalanan dari sini menuju kerumah sekitar 3,5 jam berarti kami akan tiba di rumah sekitar setengah sebelas, sedangkan perutku belum diisi sejak siang tadi, duh.. bisa-bisa cacing didalam perutku ngamuk, karena belum mendapat upeti. Tante Mala seperti mengerti akan pikiranku, beliau melihat aku melirik jam dan akhirnya mengajakku untuk nanti mampir di salah satu rumah makan bila kami melewatinya.
Sejam perjalanan yang kami lewati dengan keheningan, dimalam ini lalu lintas cukup ramai, mungkin karena bertepatan dengan weekend, sehingga banyak lalu lalang kendaraan dijalan yang kami lalui. Jarak dari tempat kami tadi memang cukup jauh, melewati perkebunan, sawah dan beberapa kota kecil, akhirnya ketika kami melewati sebuah kota yang cukup ramai, kami memutuskan untuk mencari rumah makan yang dirasa menurut kami cukup enak, aman dan nyaman.
Akhirya kami memutuskan untuk berhenti disebuah restoran yang kelihatan cukup mewah, karena menurut Tante Mala, tempat itu adalah tempat biasa ia makan, bila melewati kota ini. Memang kulihat tempat itu cukup bagus, banyak mobil-mobil mewah terparkir disana, dan kulihat disebelahnya juga terdapat hotel yang cukup bagus, mungkin kelas melati, namun cukup asri dan mewah untuk sekelas penginapan di kota kecil seperti ini.
Kami makan di restoran itu tanpa banyak berbicara, sampai saat ini aku tidak berani untuk menanyakan apa yang terjadi terhadapnya, aku hanya dapat mengira-ngira saja. Ada sedikit sesal dihatiku, mengapa Tante Mala berselingkuh dengan Om Herman, aku sangat menyayangkannya, aku selalu memperhatikan gerak-geriknya yang salah tingkah, beliau sepertinya saat ini agak sungkan kepadaku.
Didalam hatiku ada kecurigaan, sepertinya Tante Mala mengetahui bahwa aku memergokinya saat tadi Aku dan Tante Sandra berkunjung ke Kantor Om Herman, mungkin Tante Sandra marah besar terhadap keduanya, sehingga Tante Mala berusaha menghindari keduanya dengan mengajakku pulang cepat. Aku tersenyum getir, untungnya Tante Sandra telah memuaskanku, memuaskan birahiku, sehingga setidaknya Om Herman telah membayar apa yang telah dilakukannya terhadap Tanteku telah dibayar oleh istrinya.
Dasar aku memang sial, jarang pergi sama cewek cakep, sekalinya pergi dengan wanita cantik sexy didepanku ini malah membuat aku grogi. Restoran yang kami datangi ini adalah restoran continental dengan berbagai macam menu masakan luar negeri. Kulihat sekeliling sepertinya eksekutif-eksekutif yang berpakaian necis, ganteng, dengan jas, dasi, sepatu mengkilap sedang makan malam disini, belum lagi kulihat, beberapa meja dipenuhi dengan keluarga-keluarga kaya yang turut bersantap.
Sepertinya cuma aku aja yang berani tampil beda, berani malu beda dari yang lainnya, cuma kemeja lengan pendek, dengan celana jeans belel, belum lagi muka yang lecek beminyak, yang membuat orang yakin, percaya dan berani taruhan gede2an kalo aku berpenghasilan gak lebih dari UMR. Sialan. Dan yang membuatku grogi adalah sepertinya semua mata memandang kami, Tante Mala yang berpenampilan cantik, sexy dengan berbelahan dada rendah, membuat mata mereka sepertinya sebentar-sebentar kembali melirik kami, jelas ini membuat aku semakin kikuk, jangan-jangan membuat mereka berpikir kalo aku ini adalah pembantunya, kuyaaaa.
Melihat menu restoran semakin membuat aku puyeng, makanan dengan bahasa yang tidak banyak kumengerti semakin membuat aku bingung dalam memilih. Masa aku mau memilih gado-gado atawa karedok ? ada sih emang, tapi bukannya itu nanti malah membuat mereka berpikir kalo aku biasa makan di emperor resto ? emperan trotoar !. gak la yau..
Akhirnya setelah da..de.. do… aku dengan tegas menunjuk menu makanan jepang shashimi, dengan harapan itu adalah makanan lezat khas jepang seperti di restorant cepat saji yang biasa aku lihat dibrosur2 yang disodori oleh SPG cantik di depan mall-mall, yang biasanya aku comot walaupun mereka tidak menyodorkan ke aku, (mungkin mereka menilai dari penampilanku yang dalam pikiran mereka aku gak bakal mampir, gak kuat bayar, padahal sih iya, lah wong aku Cuma ngarep di brosur itu mereka naruh nama dan no telp yang bisa aku kerjain, kali aja nyangkut… heheheh… !) .
Ada rasa kaget bercampur haru, kaget dan terperanjat ketika ternyata yang aku pesan adalah makanan ikan mentah diiris-iris dengan dimasukkan ke bumbu cair yang bau dan rasanya seperti air cuka tumpah dicomberan, dan terharu buat orang yang melihat aku salah mesen…. hiks. Terpaksa deh itu makanan aku makan juga, walau diselingi oleh coca-cola. Sehingga nanti kalo orang tanya bagaimana rasa shasimi aku akan cepat menjawabnya dengan jawaban
“ikan mentah rasa coca cola” Hiks..
Kurang dari sejam kami selesai makan, tante Mala memberi isyarat padaku agar segera pergi untuk melanjutkan perjalanan setelah selesai membayar. Aku mengikutinya melangkah, namun aku agak kaget kupikir beliau akan menuju mobil untuk kami segera melanjutkan perjalanan menuju pulang, namun beliau malah melangkah kedalam gedung hotel disebelah, beliau memberi isyarat kepadaku untuk mengikutinya. Aku hanya memandangnya dan tanpa banyak bertanya aku bergerak mengikutinya.
“Fan, Tante agak pening nih, mungkin lebih baik kita menginap disini, besok aja kita melanjutkan perjalanan, kalo dipaksakan tante bisa sakit nih”, katanya kepadaku seolah ingin meyakinkanku.
Aku hanya mengiyakannya, dan seakan bahwa ini tidak masalah buatku.
Setelah cekin dilobby, aku mengikutinya masuk kamar, jam menunjukkan kurang dari pukul 9 malam. Entah karena aku juga capek, letih atau apa, menyimpan tas yang kuambil tadi sebelum dimobil kami masuk, melemparkannya dan merebahkan diriku di ranjang, duh, pegel bener. Mengingat kejadian hari ini memang cukup membuatku letih, ada tambahan tenaga setelah makan tadi, namun aktivitas hari ini cukup membuatku menguras tenaga, kulihat tante mala, merebahkan dirinya di bangku yang tersedia dalam kamar, menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.
Beberapa saat kami terdiam, aku melangkah bangun menyalakan televisi yang berada didalam kamar, menggunakan remote yang tersedia untuk mencari siaran yang kurasa enak ditonton dan kembali bermaksud merebahkan diri kembali di ranjang, namun langkahku terhenti, kulirik Tante Mala, dan berkata “Tan, Tante sakit ? tiduran aja dulu di ranjang, istirahat “ kataku, sambil melangkah mendekatinya. Tante Mala membuka matanya sambil tetap memegangi keningnya, “Iya deh Fan, tante mala istirahat dulu” katanya sambil bangun dan beranjak mendekati sisi tempat tidur.
Aku melihatnya, kami berganti posisi, kulihat beliau membaringkan tubuhnya di ranjang, menggunakan bantal dikepalanya dan berusaha memejamkan mata, aku hanya terdiam melihatnya, entah apa yang harus kulakukan, namun sepertinya aku dapat menduga apa yang terjadi padanya, mengalihkan pandangan darinya dan berusaha fokus pada televisi yang aku tonton.
Beberapa lama kami terdiam seperti ini, aku seperti membayangkan kejadian tadi siang, persis seperti yang dialami tante Sandra. Membuat perutku seperti mendesir, mengingat kejadian tadi siang dimana aku dan Tante Sandra melakukan persetubuhan, kembali aku melirik Tante Mala, membayangkannya bersetubuh denganku, dan ini membuat dedeku semakin tegang.
Berusaha menepiskan segala pikiran dari benakku, kembali memusatkan pikiran ke arah televisi, kulihat tante Mala, bangun dari ranjang, dan memandangku sambil berkata, “Fan, tante mo mandi dulu ah, mungkin nanti bisa lebih segar”, katanya. Aku memandangnya dan menganggukkan kepala seolah tak peduli namun seakan memberi persetujuan, namun aku tetap memandang televisi di kamar itu.
Kulihat beliau mengambil sesuatu dari tasnya, mengeluarkan beberapa barang, menaruhnya dekat kaca yang berada disisinya dan kemudian kulihat beliau melangkah ke arah pintu kamar mandi, sambil membawa sesuatu seperti pakaian, memasuki kamar mandi, dan menutup pintunya. Duh, padahal aku mengharapkan kalo beliau mandi dengan pintu terbuka seperti Tante Sandra.
Beberapa lama aku menunggunya mandi, sambil menonton televisi. Beliau keluar kamar mandi dengan muka tampak segar melangkah keluar, mengenakan penutup pakaian seperti kimono, warna putih, dan yang mebuatku deg-degan adalah, beliau mengenakan baju tersebut seperti tidak dikancing atau diikat pinggangnya dan jelas membuat payudaranya seperti hendak mencuat keluar.
Berjalan melangkah ke arah meja berkaca disebelah ranjang tempat tidur, mematut-matutkan diri sejenak. Kulihat beliau seperti mengambil sesuatu dari pinggiran meja tersebut, seperti strip obat, mengambil beberapa kemudian memasukkan ke dalam mulutnya dan meneguknya dengan air yang telah tersedia disisi lain meja itu. Aku memperhatikan dan Kemudian seperti tidak perduli ada diriku didekatnya, tanpa kuduga sama sekali, beliau memelorotkan baju putih tersebut, membelakangi diriku.
Namun hal itu malah membuatku terbengong-bengong. Memang aku sering melihat dan memperhatikan Tante mala dalam keadaan polos tanpa busana, namun biasanya hal itu tanpa beliau sadar bahwa aku ada didekatnya dan atau bila aku mengintipnya, tapi kalau ini jelas beliau tahu aku ada disitu dan jelas-jelas melihatnya dari pantulan kaca didepannya.
Entah, jelas hal ini membuat aku terkesima, memandangnya terus seperti itu mungkin akan membuat aku gelap mata, berpikiran seolah-olah tante Mala memancing aku, merayu aku untuk menyetubuhinya, aku berusaha memalingkan pandanganku darinya, berusaha menepis bayang-bayang kotor yang kian menguasai pikiranku.
Rambutnya yang agak ikal panjang, disisir kebelakang, kemudian dengan menggunakan cairan yang ada didekatnya, mengusapnya ketelapak tangan, membasuhnya di rambut kepalanya, selanjutnya menyisir kembali kebelakang, sesekali kedua tangannya diangkat kearah kepala, memegang kedua rambutnya, dan hal ini jelas membuat kedua payudaranya seperti ditonjolkan keluar, seakan menyuruh aku untuk melihat, memegang dan meminta aku untuk memuji-mujinya betapa indahnya kedua bukit kembar tersebut.
Sering aku berpikiran, bahwa selama ini aku selalu dikelililngi oleh wanita wanita cantik dengan badan yang begitu indah, montok, putih, mulus dan tentu saja di anugrahi 2 buah bukit kembar yang juga montok, besar dan dengan bentuknya yang menggiurkan, entahlah kadang aku heran apakah dengan aku yang jelek, pendek, dengan tubuh yang pas-pasan ini selalu mendapat godaan yang rasanya sulit aku hindari.
Akhirnya tak berapa lama kemudian, beliau berbalik, masih tak melihat ke arahku, diambilnya baju dari dalam tasnya, mengepasnya sebentar dikaca, kemudian memakainya. Kali ini Tante Mala kulihat menggunakan Bh warna Pink, wow, begitu serasi dengan kulitnya yang putih, Bh yang kulihat seperti transparant, mengaitkannya perlahan, menarik talinya kemudian mengepasnya agar menutupi seluruh payudaranya.
Kemudian beliau mamakai baju tadi yang dipaskannya, mengangkat kaki kanannya, memasukkan baju tersebut dari bawah menahannya sebentar dipinggang. Kemudian menariknya keatas, serta memasukkan kedua tangannya agar tali bajunya berada tepat diatas pundaknya. Tante Mala, tampak cantik dan anggun dengan memakai baju tersebut. Kulihat beliau layaknya gadis yang masih duduk dibangku kuliah, tidak nampak bahwa usia beliau hampir mendekati kepala 4.
Aku baru sadar, ketika tante mala menyemprotkan cairan pewangi ke tubuhnya, Tante Mala sangat rapi dan cantik, dan hal itu jelas memberitahukan padaku bahwa Tante Mala saat ini berencana untuk pergi ke suatu tempat. Dan tanpa kucegah dari mulutku keluar kata-kata “Tan, mo pergi kemana ? lah kirain pusing, bukannya tadi katanya gak enak badan ? “ kataku seolah mengomentari penampilannya.
“Udah agak mendingan nih Fan, setelah mandi barusan” sahutnya menjawabku namun masih tetap memandangi wajahnya dicermin, kemudian membalikkan badannya dari cermin setelah memastikan bahwa penampilannya Ok.
Aku tersenyum melihatnya, seperti melihat Moza, Mita atau Mala yang sering memintaku menilai pendapatnya kalau mereka akan pergi ke pesta atau akan jalan dengan temannya.
“Fan, kita jalan yuk, kita ke sebelah, kan disebelah ada cafe dan music lounge, yuk kita kesana, santai aja sebentar, mo gak ?” katanya sambil tersenyum kepadaku.
Aku agak terkaget mendengarnya, kupikir beliau saat ini hendak kemana gitu, entah kesuatu tempat, keluar dari tempat ini atau sekedar berkunjung ke temannya. Tempat tujuan yang bosen aku disuruh olehnya. Namun kali ini berbeda, beliau mengajak aku ke tempat dimana aku tidak menyangkanya.
Aku hanya mengjawabnya singkat “boleh” dan tanpa banyak tanya aku mengikutinya berjalan, merapihkan bajuku satu-satunya yang melekat dibadan, agar kelihatan rapih memasukkannya kedalam celanaku.
Tempat itu memang tidak jauh dari ruang kamar kami, diseberang lahan parkir yang ada, agak kebelakang, mungkin saat ini waktu telah menunjukkan pukul 10 lewat sedikit, jadi kulihat areal parkir telah agak ramai dan penuh, lampu hias menyala silih berganti warna, seakan menjadi icon bahwa tempat itu adalah suatu arena hiburan.
Aku menurutinya, mengikutinya masuk, namun aku mendahuluinya ketika kami akan memilih tempat duduk, aku memeriksa ke sekeliling ruangan, bagaikan bodyguard yang akan melindungi tuannya, memastikan semuanya aman, aman dari gangguan dan godaan yang mungkin akan menimpa tante Malaku, memilih dan menuju salah satu meja yang kurasa aman dan nyaman untuk kami berdua.
Aku sengaja memilih posisi duduk yang agak pojok, yang agak gelap namun tidak jauh dari depan panggung, sehingga kami dapat menyaksikan grup pemusik yang akan beraksi di depan.
Seorang waitress menghampiri kami, cantik dengan kemeja warna putih dan celana jeans biru muda, menawarkan kami minuman. Mulanya aku hendak memesan minuman ringan saja, lumayanlah untuk mengisi suasana sambil mendengarkan alunan musik. Namun ketika kupandang tante Mala, kudengar kata-kata keluar dari mulutnya cukup jelas bahwa ia memesan salah satu minuman keras terbaik sambil menyebut salah satu merk terkenal dan memastikan bahwa pesananku sama dengannya. Tercengang aku mendengarnya !.
Aku hanya terdiam memandangnya, sambil memperhatikannya, aku berpikir, apakah tidak salah yang aku dengar dan lihat ? , apakah Tante Mala kini sudah berubah ? Tante Mala yang dalam kesehariannya aku tahu, apakah kini telah berubah liar ? apa yang membuatnya demikian ? apakah ada sesuatu yang sangat membuatnya seperti ini ? apakah beliau khawatir bahwa perselingkuhannya dengan Om Herman, diketahui oleh Tante Sandra dan akan membuat hal tersebut juga sampai ke telinga Om Mirza ? sehingga hal ini membuatnya stress ?
Satu demi satu lagu mengalir dibawakan oleh grup pemusik di depan sana, kulihat tante Mala, beberapa kali menengguk minuman itu, menghabiskan gelas pertama dengan cepat, kemudian menuangkannya kembali dari botolnya. Beliau sesekali menyuruhku minum, meminta sebatang cigaret dariku, menyalakannya dan menghisapnya perlahan, agak terbatuk pada hisapan pertama, membuat aku tertawa karena baru kali ini aku melihatnya merokok.
Teguk demi teguk, gelas demi gelas mengalir kedalam kerongkongan kami, seiring lagu demi lagu mengalir, tak terasa menit demi menit berlalu, mungkin 2 jam kami telah berada disini.
Kulihat wajah tante Mala telah berubah memerah, sepertinya beliau telah mabuk, aku sendiri memang merasa demikian juga, namun aku masih dalam keadaan sadar dan terkendali, ketika kulihat mata beliau sudah kelihatan seperti orang mabuk dan kadang berteriak sambil bertepuk tangan diiringi suara tertawa tak karuan, dan meminta lagu kearah depan dengan berteriak namun dengan suara tak jelas meracau, aku berpikir harus bertindak cepat. Kuraih Tante Mala dalam pelukannku, perlahan aku mengajaknya berdiri, memapahnya, meninggalkan sejumlah uang untuk membayar tagihannya dan menggiring tante Mala keluar.
Mulanya tante Mala menolakku, berkata kepadaku agak keras agar menunggu sebentar lagi, namun aku takut beliau akan semakin tak terkendali, sehingga dengan setengah memaksa aku memintanya untuk kembali ke kamar.
Akhirnya beliau menurutiku, dengan alasan yang kelihatannya masuk akal baginya, aku akhirnya berhasil memintanya kembali ke kamar, dengan diiringi tatapan mata sejumlah pengunjung dan pelayan cafe itu. Aku tak perduli.
Memasuki kamar, Tante Mala langsung merebahkan diri diranjang, wajahnya tersirat rasa kekesalan, namun entah apa yang membuatnya seperti ini. Kututup pintu, kukunci dengan maksud agar ia tidak keluar menyelinap kembali ke tempat tadi, kupandang ke arahnya, ia sepertinya berusaha memejamkan matanya, ditutupinya dengan pergelangan tangannya. Aku juga sepertinya setengah mabuk, kududukkan pantatku disofa, memandanginya, seakan menunggunya bereaksi, mataku kuusahakan juga terpejam.
Kulihat ada gerakan dari tante Mala, nampaknya ia berusaha bangun, turun dari ranjang, mengambil sesuatu dari tasnya, ternyata beliau hendak mengganti baju yang dikenakannya. Kulihat ia berdiri disisi ranjang, mencium baju merah yang dikenakannya, membaui ketiaknya, kemudian memelorotkannnya, melepas Bhnya, dan mengenakan baju tidur warna hitam. Dengan wajah agak merah, akibat pengaruh minuman yang diminumnya, namun itu jelas membuatnya tampak lebih cantik, sexy dan menggiurkan.
Aku melihatnya, memandanginya sejenak, dengan baju tidur warna hitam, tanpa bra, kulitnya yang putih, tampak agak kecoklatan karena pengaruh lampu ruangan yang agak temaram. Duduk disofa disebelahku, seolah menggodaku untuk menjamahnya, memancing darah lelakiku bergolak, memompa napsu birahiku.
Kusingkirka pikiran itu jauh-jauh, kulihat ia memandangku, menunggu reaksiku, namun aku tak bergerak, berusaha memejamkan mata, menepis bayang2 indah didepanku. Duh mudah2an aku kuat menghadapi cobaan ini, biar bagaimanapun, walaupun jelas dia bukan muhrimku, namun beliau adalah Tanteku, sepupu jauh dari ibuku.
Kulihat ia bangkit lagi dari sofa disisiku, melangkahkan kakinya kearah pembaringan, membuka lemari pendingin disebelahnya dan kulihat ia mengambil minuman disana, membuka kalengnya dan meneguknya. Aku memperhatikannya sejenak, ada rasa haus juga menerpa, segera aku bangkit menuju lemari pendingin, mengambil botol minuman yang kurasa cukup untuk menambah rasa peningku.
Kami berdua sepertinya malam ini sama-sama mempunyai persoalan, tapi entahlah, seolah kami tak ingin saling membantu untuk memecahkan persoalan itu. Seteguk demi seteguk, kuhabiskan minuman itu, membuat kepalaku semakin berat, bergerak limbung, merebahkan kembali tubuhku disofa. Kulihat Tante Mala telah tergolek kembali di ranjangnya, memutar-mutar tubuhnya, bolak-balik, layaknya orang yang resah. Kulihat pakaian tidurnya sudah tidak karuan, bagian dadanya sudah melorot kebawah, dan celakanya kulihat bagian bawahnya tidak menggunakan celana dalam, kini baju tidurnya hanya menutupi bagian pinggangnya saja !.
Tante Mala memandangku, dengan mata yang sayu, menatapku, “Fan, sini fan, temenin Tante Bobo, badan tante kok panas dingin begini ?” katanya kepadaku. Mataku kukejap-kejapkan, seolah hendak mengusir pening akibat pengaruh minuman yang kutenggak, memandangnya nanar, berusaha bangkit. Entahlah apa yang ada didalam pikiranku, seakan blank didalam otakku dan ada iblis yang membisiku untuk memanfaatkan peluang ini. Melangkah dengan nanar, kubuka baju kemejaku, celana panjangku, dengan hanya bercelana pendek, kurebahkan tubuhku disisinya, mensejajarkan dengan badannya, seakan ingin membuatnya tenang dan berbaring disebelahnya, terpejam.
Rasa pusing akibat minuman keras membuatku lupa diri, ingin tidur pulas namun seolah ada beban dipikiranku, kupejamkan mata dengan menutupinya dengan lenganku, berusaha menepis bayang-bayang kotor yang berkelebat. Beberapa menit berlalu, hingga…..kudengar sayup-sayup seperti orang menggumam ditelingaku. “Mas, maafkan aku ya ?, jangan marah ya Mas, aku gak akan mengulanginya lagi, Mas … maafin ya mas ?”, entah ditujukan kepada siapa hal itu, Tante Mala tak mungkin memanggil aku dengan sebutan Mas, namun siapa lagi orang lain disini yang diajaknya berbicara selain aku.
Dalam kepeningkanku, tak kuhiraukan gumaman dan ocehan2 Tante Mala, aku tak peduli, yang jelas saat ini didalam otakku adalah berusaha untuk tidur dan berharap pening yang melanda otakku dapat segera hilang. Namun hal tersebut tak berlangsung lama, dalam kesadaranku yang tidak sepenuhnya, kurasakan disebelahku Tante Mala bangkit.
Entah apa yang akan dilakukannya, yang jelas saat ini aku hanya fokus pada rasa pusing yang melandaku, tapi ada rasa aneh melanda, aku berusaha membuka mataku yang semakin berat, berusaha melihat apa yang terjadi.
Tiba-tiba kurasakan celana pendekku seperti ada yang menarik, memelorotkannya kebawah, mengeluarkannya dari kakiku, hingga membuatku telanjang bulat, entahlah sepertinya aku tak kuasa untuk menahannya, seperti membiarkannya terjadi, serta menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku layaknya cowok lugu, yang tidak mengerti apa yang sedang dan akan terjadi, berusaha membuka mata, namun seakan ngeri untuk membayangkannya, dan berusaha memejamkan matanya kembali. Kulihat tante Mala sedang memegang penisku, membelai-belainya, memegang batangnya mengocoknya perlahan, membuat penisku yang semula rebah, bangkit, menegang dan membuatnya mengeras.
Ada rasa geli bercampur enak kurasakan, sulit untuk kubayangkan, karena sepertinya ini baru pertama kali terjadi padaku. Seorang wanita cantik memegang kemaluanku dan membuatnya bangkit, membuat darah kelaki-lakianku bergolak, yang biasanya aku lakukan sendiri, kini dilakukan oleh seorang wanita cantik yang selalu menjadi imajinasiku dalam bercinta.
Terhenyak aku ketika kurasakan rasa nikmat yang sangat, kutundukkan kepala untuk melihat kearah bawah selangkanganku, kulihat saat ini Tante Mala, layaknya seorang profesional, memegang penisku, mengarahkannya kepada payudaranya, mengocok-ngocoknya, menekan kepala penisku menyentuh puting payudaranya, kemudian beliau menaruh diantara keduanya, dibelahannya dan memaju-mundurkan badannya, seakan akan kedua payudara indah, putih, dan montok itu sedang mengurut-ngurut penisku.
Aku hanya bisa mendesah, merasakan kenikmatan yang sulit kubayangkan, penisku semakin menegang. Tak lama kemudian, seperti ada yang menarik penisku, agar lebih memanjang, mengurutnya perlahan, entah apa yang ada, kudengar lenguhan dan dengusan tante Mala, perlahan seolah menahan napas dan menghembusnya pelan, Tante Mala tampak sedang memasukkan penisku kedalam mulutnya !.
Aku menggelinjangkan badanku, merasakan sensasi yang baru pertama kali kurasakan, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, merasakan kenikmatan yang penuh sensasi. Aku hanya dapat mengejap-ngejapkan mataku seakan memintaku untuk sadar, bahwa kenikmatan yang kualami ini adalah benar-benar suatu yang real, benar-benar terjadi.
Beberapa menit berlalu, penisku semakin menegang, ketika tiba-tiba penisku serasa dicengkeram, kurasakan Tante Mala seperti menaikiku, mengangkangkanku seakan ingin menaruh pantatnya diatas penisku, dalam pandangan nanarku kurasakan penisku dipegang dan diarahkan kekemaluannya. Perlahan namun pasti, Tante Mala mengarahkan penisku kelubang vaginanya, seolah akan mendudukinya, mencobloskannya, hingga seluruh batang penisku seakan masuk tertelan oleh rongga itu.
Ada rasa hangat dan basah ketika penisku masuk kedalamnya, dalam ketidaksadaranku, aku mencoba meraih tubuhnya, berusaha bangkit dari tidurku, namun aku seperti tak mempunyai tenaga untuk bangkit, tak berdaya, hanya bisa pasrah menerima perlakuan ini. Tak lama kemudian, kurasakan tante mala dengan bertumpu pada kedua kakinya, menaik turunkan pantatnya, sehingga penisku yang berada dibawahnya seakan-akan keluar masuk, aku hanya bisa mendesah keenakan dan sesekali ikut irama pantatnya dengan mengangkat pantatku. Pening yang melanda kepalaku seakan menjadi beban tersendiri, menyesal aku tadi banyak minum, sehingga apa yang terjadi saat ini tidak sepenuhnya berada dalam kesadaranku.
Tante Mala sepertinya juga tidak dalam keadaan sadar, entah apa yang dilakukannya itu, benar-benar terjadi seperti yang diinginkannya atau diluar kesadarannya. Desahan yang keluar dari mulutnya semakin tidak teratur, terengah-engah, dengan desisan disertai lenguhan dan kata-kata yang tak jelas, terdengar ditelingaku.
Menit demi menit, berlalu kurasakan tante Mala kulihat semakin liar tak terkendali, baru kudengar dan kualami sendiri, Tante Mala tampak menggoyang-goyangkan tubuhnya kekiri dan kekanan, menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, maju mundur, seakan hendak menggilas penisku dengan pantatnya, seakan kenikmatan yang tiada tara sedang melandanya. Memelukku, menindihkan badannya diatas tubuhku, sambil tak henti-hentinya menggoyang-goyangkan pantatnya, terus… terus.. dan terus….
Ketika kurasakan cengkraman pada penisku semakin keras, ketika kurasakan adanya goncangan dari tubuh Tante Mala, ketika kurasakan adanya jeritan dan rintihan yang keluar dari mulutnya, ketika kurasakan adanya getaran yang melanda tubuhnya. Entahlah mungkin ini sensasi yang pertama kali kurasakan, ada kenikmatan tersendiri ketika melihat raut wajah kepuasan tergambar dimatanya, ketika kulihat beliau menengadahkan kepalanya dengan menjerit dan merintih menandakan telah dicapainya titik klimaks yang diinginkannya.
Tak tahan aku menahan kenikmatan yang kurasakan juga, serasa sesuatu akan meledak dari ujung penisku, ingin mencapai titik kulminasi sama seperti yang dialaminya. Ketika cengkeramannya semakin ketat, kugapai tubuhnya, berusaha mendorongnya, ingin kuhindari hal yang tak diinginkan, kupaksakan untuk menarik cepat penisku keluar dari lubang kenikmatan itu, menghindari semburan maniku keluar dari rahimnya. Namun rasanya aku tak kuasa untuk membendungnya, beberapa saat menjelang tercabut dari lubang vaginanya, kurasakan semburan panas melanda, memuncratkan sebagian isinya, didalam lubang kenikmatan tersebut.
Kurasakan kami berdua sama-sama lemas, tenaga kami seakan tersedot habis, aku hanya menatapnya, memandang wajahnya. Wajah tanteku yang cantik, yang selama ini hanya dapat kubayangkan, yang sering menjadi bahan imajinasiku dalam bercoli ria, yang selama ini hanya dapat kunikmati tanpa dirinya mengetahuinya, kini berbalik malah beliaulah yang menikmatiku, dalam keadaan diriku yang setengah sadar. Sosok cantik kini terbaring didalam pelukanku, rebah diatas tubuhku, dengan wajah terpejam, penuh kepuasan.
Aku mencoba menyadarkan diri, berusaha untuk bangun, mencubit diriku untuk meyakinkan aku bahwa yang kualami ini bukanlah mimpi. Berusaha meyakinkan diriku bahwa wanita yang kini dalam pelukanku ini adalah benar-benar beliau, benar-benar tante Mala.
Kupandangi langit-langit kamar, kucoba menerawang kejadian-kejadian yang terjadi pada diriku hari-hari terakhir ini. Kulihat wajah bersimbah peluh didadaku, menggeserkannya, memindahkannya, dan merebahkannya disampingku.
Kutatap wajah cantik polos disisiku, memiringkan tubuhku menghadapnya, tampak tante Mala terpejam, seperti tertidur pulas, wajahnya masih berona kemerah-merahan. Bunyi napas teratur seperti keluar dari mulutnya, dan tak lama kulihat matanya tampak terbuka sedikit, seperti diriku bertatapan aku dengan matanya. Namun tak kulihat ekspresi kaget atau apa, yang keluar tergambar dari wajahnya, sepertinya beliau sendiri belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi barusan.
Aku memandangi wajah cantik, putih dengan bibir sensual dihadapanku, menatapnya dan menuruni pandangan kebawah, keseluruh lekuk tubuhnya, mulai dari lehernya yang jenjang, dadanya yang membusung padat, lekuk pinggangnya dan perutnya yang ramping terjaga, memandangi rambut tipis kehitaman yang tumbuh dibukit kemaluannya, pahanya yang mulus dan dengan betis yang bentuknya bagaikan bulir padi. Namun sungguh tak kuduga sama sekali memandang hal ini membuat dedeku yang semula rebah, menjadi bangkit lagi !.
Entah dorongan dari mana, ingin sekali kupuaskan diriku lagi. Ingin merasakan tubuhnya lagi, sepuas-puasnya, seakan ada yang mengatakan kepada diriku bahwa mungkin ini adalah kesempatan satu-satunya, kesempatan pertama dan terakhir yang mungkin akan terjadi pada diriku.
Tak lama aku segera bertindak, berusaha membuat tegang dedeku, memegangnya dengan tanganku, mengurut dan mengocoknya perlahan, untuk membuatnya semakin tegang dan mengeras. Tanpa menunggu lama, aku bergerak menindih tubuh Tante Mala, menciumi wajahnya, bibirnya, dengan penuh napsu, mengulumnya, memainkan lidahku di dalam mulutnya.
Tak ada reaksi dari Tante Mala, ekspresi wajahnya seakan pasrah, seakan menyuruhku untuk memuasinya semampu yang aku lakukan.
Aku berpindah mengarahkan ciumanku ke arah lehernya, ketelinganya, memainkan lidahku dicuping telinganya, membuatnya tergetar dan kemudian mengarahkan ciumanku kearah dadanya. Kukecup pelan dada putih, besar dan montok itu, menciuminya, memainkan lidahku mengelilingi putingnya. Kulihat kepala beliau menengadah, menikmati kembali sensasi yang kuberikan. Aku hentikan sejenak, namun kulihat diwajahnya seakan memprotes diriku, memintaku untuk meneruskan apa yang kulakukan dan bahkan menginginkannya lebih. A
ku memainkan lidahku kearah putingnya, memasukkan puting coklat kemerah-merahan itu kedalam mulutku, memainkannya dengan lidahku, kuhisap, kesedot dan sesekali kugigit perlahan. Kuremas payudara itu dengan tanganku berganti-ganti dengan hisapan dan mainan lidahku, membuatnya kelihatan seperti orang yang blingsatan.
Aku menuruni dadanya, mengarahkan ciumanku terus kebawah, mengecup seluruh tubuhnya, mulia dari bawah dada, perut hingga mencapai bukit indah dibawah. Kecium dan kumainkan lidahku disekitar paha dan kemaluannya, membuatnya menggelinjang karena geli tertahan. Membangkitkan gairahnya kembali, ketika kecupan akan kuarahkan ke selangkannya, kurasakan bagian itu telah basah kembali. Tak perduli dengan keadaan, kubuka kedua paha yang panjang itu agar terbuka lebar, kususupkan kepalaku diantara kedua pahanya, kumainkan lidahku di sana, dibibir kemaluannya.
Kutengadahkan kepalaku keatas, kepandang wajahnya, kulihat wajah Tante Mala sudah menggambarkan keinginan yang sangat. Keinginan agar kepuasannya terpenuhi. Kuhentikan sasaran lidahku pada area vaginanya, merangkak naik, meniti tubuhnya.
Kuarahkan penisku kelobang kenikmatan yang telah basah itu, perlahan kumasukkan dan kudorong masuk kedalamnya, sambil kupandangi wajahnya, kulihat Tante Mala memandangku dengan sayu, seperti tak sadar dengan siapa dirinya bersetubuh, berusaha mengerenyitkan matanya untuk mengetahui siapa sebenarnya diriku, namun disisi lain seolah meminta kepadaku agar segera melanjutkan apa yang telah aku mulai.
Kedesakkan penisku kedalam rongga kenikmatan itu, memaju mundurkannya perlahan, memegang kedua lututnya, seakan membantuku untuk menahan tubuhnya agar tak terdorong kedepan. Perlahan kudorong, dan kulesakkan tiba-tiba, seakan aku ingin menyentuh ujung rahimnya dengan kepala penisku, memberikannya sentakan yang membuatnya menjerit tertahan. Kemudian kutarik perlahan dan kusentakkan kembali mendorongnya, berkali-kali. Aku seakan ingin mengatakan kepadanya, inilah penis terbaik, penis yang mampu memberikan kenikmatan yang lebih baik dibandingkan penis yang dimiliki oleh Om Mirza dan Om Herman. Kugoyang-goyangkan pantatku kekiri dan kekanan, memberikan irama yang bervariasi kepadanya, memaju mundurkannya, perlahan , makin cepat, cepat, semakin cepat.
Dada tante Mala seolah ikut berguncang-guncang, payudaranya seakan terbawa arus, kepalanya menengadah keatas, beliau seakan berusaha menahan payudaranya agar tak ikut bergoyang, memegang denga kedua tangannya, namun hal ini malah membuat seolah-olah tangannya membantu untuk memberikan kepuasan kepada dirinya melewati remasan-remasan pada payudaranya. Indah sekali pemandangan yang kusaksikan ini, wajah cantik, body mulus dihadapanku, tersaji dengan siap sedia, memberikan kenikmatan kepadaku dengan tiada taranya.
Aku mendesah tak karuan menikmati sensasi yang kualami ini, sensasi yang biasanya kudapatkan tanpa perlawanan, kini terjadi sebaliknya, dimana wanita yang selama ini menjadi bahan hasrat seksualku kini melayaniku, dengan hasrat birahinya. Entah berapa lama ini terjadi, kulihat Tante Mala sudah mengerang tak karuan, merintih, mendengus, melenguh tak terkendali, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan kenikmatan yang kuberikan sangat dahsyat. Aku memandang wajahnya dengan penuh napsu, tiada kata yang dapat kugambarkan saat ini, aku hanya dapat menggumamkan kata-kata “Ouugghh Tante….. Oouggghh…” sambil terus mendorong, menarik, memaju-mundurkan penisku kedalam vaginanya.
Bersamaan dengan jeritan dan erangan yang keluar dari mulut Tante Mala, kurasakan penisku seperti hendak kembali meledak, ingin mengeluarkan cairan putih kental, tak ada kesempatan bagiku untuk berpikir, namun nalarku berjalan cepat. Ingin segera kutarik keluar penisku dan mengeluarkannya diluar lubang kemaluannya, menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Ketika saat itu hendak terjadi, Tante Mala seakan mengerti dan faham, beliau bangkit hendak memelukku, seolah hendak memaksaku mengeluarkan cairan hangat kental itu didalamnya, sehingga aksi yang bertolak belakang terjadi.
Kudengar jeritan tertahan keluar dari mulutnya “Mas”, hanya itu yang sempat kudengar, namun fokus pikiranku berada diujung penisku, kurasakan sesuatu telah melesak keluar, penisku yang semula hendak kutarik keluar dari lubang kenikmatan tersebut, sebelum keluar semua, telah memuncratkan cairan tersebut didalamnya. Ooh……
Terhenyak aku dalam keterkejutan, terdiam, terduduk lemas, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kulihat Tante mala tampak memancarkan senyum kepuasan, mengatur napasnya yang tadi terengah-engah agar beraturan kembali. Meletakkan tangan kirinya diatas perutnya sementara tangan kanannya tergolek lemah disamping tubuhnya kepalanya tergolek kekanan, tersenyum dengan mata terpejam. Aku merebahkan diri disamping kirinya, mensejajarkan tubuhku dengan tubuhnya. Tubuh kami berdua serasa mandi peluh, merasakan hembusan hawa yang keluar pendingin ruangan, menunggu hingga tubuh kami mendingin.
Aku menarik selimut dibawah kaki kami, menutupi tubuh kami yang polos tanpa busana, membuatnya agar tetap hangat. Aku memejamkan mataku, berusaha untuk tertidur. Tak berapa lama kudengar dengkur halus disebelahku, diiringi bunyi napas teratur. Masih pening kepalaku, berusaha menerawang dan fokus ke satu pikiran, banyak bayangan berkelebat dalam kelopak mataku, semakin lama semakin gelap, gelap dan gelap.
-end of session–
Pagi hari, terbangun aku dengan kepala masih terasa berat, kulihat tante mala masih tertidur pulas, matahari mungkin telah meninggi, ada rasa mendesak yang ingin keluar dari ujung penisku, memaksaku melangkahkan kaki ke kamar mandi.
Kubuang air seni dengan derasnya kedalam toilet, kemudian kuputuskan untuk menyegarkan badanku dengan mengguyurnya dengan air, dingin menerpa seluruh badanku, segar.
Entah berapa lama aku melakukan ritual pembersihan badan ini, dari mulai berendam, menyabuninya, menggosok seluruh badan, hingga mengeruk daki yang menempel (dapet kali barang sekilo mah, ada yang minat ?).
Selesai mandi, kulihat tante Mala juga terbangun, kulihat beliau sama sepertiku ketika aku bangun tadi, layaknya orang linglung, aku mencoba tersenyum kepadanya, dibalasnya dengan senyuman juga, namun terasa hambar.
Dalam hatiku timbul pertanyaan, apakah Tante Mala sadar dengan apa yang telah kami lakukan semalam, apakah beliau sadar bahwa beliau semalam sangat liar sekali ketika bersetubuh denganku ? apakah beliau menyadari bahwa beliau semalam melakukannya dengan aku ? keponakannya ? Entahlah.
Kulihat Tante Mala menggeliatkan badannya, seolah berusaha menghilangkan rasa pegal yang melandanya, namun sesaat kemudian beliau seperti terpaku, duduk termenung. Entahlah, aku tak dapat membaca jalan pikirannya, saat ini yang kupikirkan adalah nasibku, bagaimana nasibku jika seandainya beliau tahu bahwa aku menidurinya ? apa yang harus kulakukan jika tiba-tiba saja Tante mala menyadarinya ? entahlah… berusaha aku melepaskan bayang-bayang itu, kulihat tante mala bangkit dari ranjang dan berjalan melangkah menuju kamar mandi.

Komentar Anda

Leave a Reply