GOLBET88 | Bandar Bola Online | Judi Togel | Casino Online | Poker Online
728x90 Untitled-1

Dinda, Cintaku Yang Kembali

Dinda, Cintaku Yang Kembali – Sebenarnya pengalaman ini tak akan kuceritakan kepada siapapun juga tapi aku tersiksa terus-terusan untuk menutupinya. Pengalaman seksku yang pertama kualami sudah agak lama tapi terasa seperti baru kemarin.
Aku sekolah di SMA XXX Semarang, sebut saja namaku Bryan. Pada pertengahan kelas dua aku mempunyai seorang pacar, sebutlah namanya Dinda. Orangnya cantik dan sederhana, sungguh aku cinta padanya. Kami berpacaran secara sehat dalam arti tidak menjurus ke hal-hal yang lebih jauh. Pada hari terakhir EBTANAS, kami mendiskusikan masa depan kami. Dan ternyata jalan yang akan kami lalui ternyata berbeda, dia memilih untuk meneruskan kuliah di Surabaya di Ubaya sedangkan aku lebih senang untuk meneruskan kuliah di Salatiga saja karena orangtuaku menginginkan aku kuliah di sana.
Aku coba untuk mengikuti jalan pikirannya, mungkin dia tidak tahan kalau kuliah di kota kecil. Aku kemudian mencoba untuk beradaptasi dengan Surabaya.
Di Surabaya, aku mengikuti bimbingan test dan sempat kost di jalan Trenggilis kalau tidak salah. Tapi pada akhirnya aku menyerah, Surabaya terlalu panas buatku. Memang di sana semuanya tersedia tapi aku tetap tidak tahan. Mau kos di tempat yang ber AC, semuanya sudah fully booked.
Akhirnya aku dan Dinda memutuskan untuk berpisah karena kami saling menyadari bahwa pacaran jarak jauh tidak akan langgeng. Daripada kecewa besok, lebih baik berpisah saja.
Aku akhirnya kuliah di UKSW, Salatiga dan mendapat seorang pacar, sebutlah namanya Putri, anak Solo. Putri pun tidak kalah cantik dan menarik.
Hubungan kami lancar-lancar saja dan tidak mendapat gangguan sampai suatu saat aku mengantar Putri pulang ke Solo. HP-ku berbunyi. Kulihat nomor Surabaya. Sempat tidak kukenali nomor yang memanggil HP-ku. Dengan ragu kubuka HP-ku,
“Hallo?” Terdengar suara lembut yang amat kukenali,
“Dinda!” Hatiku sangat gembira tapi segera kukuasai perasaanku demi melihat Putri memandangku dengan curiga.
“Hai! Eh, nanti saja aku telepon balik, aku sedang nyetir nih!” begitu kilahku.
Setelah Putri kuantar, aku segera menelepon balik Dinda. Kudengar dia juga sudah punya pacar juga di Surabaya. Kami bercerita sampai 1,5 jam dan terpaksa kuhentikan sebab telingaku memerah, mungkin karena radiasi Startac yang begitu besar.
Dinda ternyata memintaku datang ke rumahnya. Ya, akhirnya aku datang juga dengan perasaan takut karena aku sudah berstatus pacar Putri. Dia menganggap aku belum punya siapa-siapa, aku pun tidak bercerita apa pun padanya. Sikapnya persis sebelum kami putus. Kami saling berpegangan tangan dan kami lupa diri, kami akhirnya berciuman. Ciuman yang terasa manis sekali. Aku benar-benar merasa bersalah tapi dia tetap tenang-tenang saja. Dia malah mengajakku ke Salatiga. Aku sebenarnya tidak mau mengkhianati Putri tapi jiwa petualanganku timbul.
Esoknya kami pergi juga ke Salatiga. Sepanjang perjalanan aku menengok kiri kanan, takut kepergok orang lain. Beruntung kaca filmku V-kool walaupun mobilku hanya Great sehingga orang luar tidak dapat melihat ke dalam. Akhirnya sampai juga ke Salatiga sekitar pukul 10.45.
“Din… makan dulu,ya?” pintaku.
Dia malah menjawab,
“Ke kosmu saja, aku mau lihat kosmu kayak apa.” Aku akhirnya ke kosku dulu.
Dia terkagum-kagum melihat kostku yang amat besar.
Aku membuka pintu kamarku dan menjatuhkan diriku di kasur. Sambil tiduran kunyalakan TV dengan remote, acaranya pada saat itu Xena kalau tidak salah.
Tiba-tiba Dinda juga menjatuhkan diri di sampingku. Aku berkata sambil menggeser tubuhku,
“Kita sudah nggak pacaran lagi lho Din!” Dia jawab,
“Aku tahu kok, tapi aku masih mencintaimu.” Dalam hatiku ingin sekali ku iyakan pernyataannya itu, tapi demi melihat foto Putri di meja segera aku urungkan.
Dia juga sempat melirik,
“Pacar barumu, ya?” Kuanggukan kepalaku dengan mantap.
Dan sudah kuduga dia membalikkan tubuhnya ke tembok. Cemburu!
“Kamu juga sudah punya pacar, kan? Aku juga tidak cemburu kok”, kataku seraya menaruh tanganku di pinggulnya.
Dia akhirnya membalikkan tubuhnya dan merangkulku.
“Kamu masih sayang sama aku nggak?” Dengan ragu ku anggukan kepalaku dan seharusnya aku tidak melakukan anggukan itu.
Kami akhirnya berciuman. Aku kemudian mengambil minuman di lemari es dan kembali tidur di sampingnya. Dinda segera merebahkan kepalanya di dadaku dan betapa kurasakan buah dadanya tergencet hangat di perutku. Sungguh besar buah dadanya dan baru kusadari itu sekarang. Kurasakan kemaluanku mulai pelan-pelan berdiri, aduh gimana nih. Aku memaksa bangkit dengan alasan mematikan TV padahal ada remote di sebelahku. Kemaluanku akhirnya normal kembali, ah betapa leganya aku.
Aku kembali membaringkan diriku di sebelah Dinda dan dengan agresifnya tanganku dilingkarkan ke pantatnya sehingga posisiku berhadapan dengannya.
Kurasakan juga pantatnya yang padat berisi. Dadaku tepat menggencet buah dadanya yang menggunung. Sungguh, sewaktu SMA tidak pernah kuperhatikan bahwa pacarku punya buah dada sebesar kelapa dan pantat semontok itu. Mungkin waktu itu aku masih lugu. Lama kelamaan kemaluanku naik lagi dan segera saja aku kembali ke posisi semula sambil berpikir tentang hal-hal yang menyenangkan. Secara tiba-tiba, Dinda bangkit dan duduk di atas kemaluanku. Dess… dengan cepat kemaluanku berdiri,
“Yan… Bryan masih sayang sama aku?” Dengan keringat dingin, aku menjawab ya.
Dia akhirnya tersenyum dan kembali ke posisi semula di sebelahku. Ah… leganya!
Setelah itu, dia tiba-tiba bertanya,
“Bryan nggak mau lihat?” Aku jawab
“Lihat apa”, Secara perlahan Dinda mulai membuka kancing pertama blusnya.
Aku mulai sadar bahwa pacarku ini sedang nafsu tapi aku teringat ajaran agamaku, Putriku, orangtuaku dan aku segera menghardiknya,
“Tutup kembali, Din! Tutup…” sambil aku memalingkan mukaku.
Dinda menangis akan penolakanku. Tangisnya benar-benar menyayat hatiku hingga aku merasa iba.
“Sudahlah, Din! Kita belum boleh melakukan itu” Aku merangkulnya dan menyeka air matanya.
Ternyata dia masih mencintaiku dan akhirnya kami berciuman lagi dengan posisi aku di bawah dan dia di atas. Kubiarkan saja kemaluanku berdiri, toh dia sudah tahu. Tapi seharusnya tidak kubiarkan hal itu terjadi.
Saat kami berciuman, tangan Dinda merayap ke bawah dan mengelus-elus kemaluanku dengan lembut. Tanganku sudah menarik tangannya agar lepas dari kemaluanku tapi dia tetap ngotot bahkan mulai berani meremas-remas. Aduh… betapa enaknya kemaluanku yang selama ini hanya aku yang sering mengelusnya sekarang dielus bekas pacarku. Kami berdua mulai kerasukan setan.
Dinda dengan posisi menduduki kemaluanku, mulai membuka kancing blusnya satu persatu. Dan tampaklah pemandangan yang amat menakjubkan. Betapa besar buah dada Dinda yang masih terbungkus BH. Bahkan BH-nya seakan-akan tidak muat dan buah dadanya seakan-akan ingin meloncat keluar. Kemudian ia melepas BH-nya dan benar, buah dadanya benar-benar meloncat keluar saking besarnya. Kemaluanku mulai basah. Buah dada itu begitu bundar dan montok dengan puting yang berwarna kecoklat-coklatan.
“Mau netek, Yan?” tanyanya.
Sebelum aku menjawab buah dadanya diangsurkan ke depan mulutku dan digeser-geserkan ke pipi dan bibirku. Aku semula bingung tapi karena naluri alamiah manusia, aku mengerti bahwa dia kepingin susunya di payudara. Segera kulumat putingnya dan tanganku memegang buah dadanya yang sebelah. Rasanya hangat dan kenyal banget. Dinda tampak menikmati adegan bayi menghisap payudara ibu itu. Matanya menutup dan kadang membuka.
Setelah lebih dari 5 menit aku menetek buah dadanya, badannya mulai bergeser ke bawah hingga mukanya tepat berada di depan kemaluanku yang masih terbungkus celana panjang. Seketika itu aku sadar dan bangkit
“Jangan… kita belum boleh melakukannya!” Tapi dia mana mau dengar dan malah mulai membuka celana panjangku.
Dan aku sudah pasrah saja ketika dia melucuti celana dalamku. Antara dosa dan nafsu jaraknya hanya setipis kulit ari memang. Kemaluanku sudah tegang banget. Dinda mulai mengelus-elusnya. Kadang digenggamnya sambil dikocok naik turun. Betapa baru kali ini kurasakan sensasi seperti ini. Seumur-umur baru kali ini kemaluanku dipegang oleh orang lain dan dikocok lagi. Kulihat dengan perasaan malu kemaluanku yang sudah mengeras.
Dinda rupanya sudah ahli, kadang dikocoknya kemaluanku pelan dan kadang cepat. Kulihat diantara kedua pahaku, Dinda masih asyik dengan mainan barunya. Dan tidak disangka-sangka dia memasukan kepala kemaluanku kedalam mulutnya. Hmphh… seluruh tubuhku bergetar hebat. Aduh… betapa enaknya! Sambil menghisap kepala kemaluanku, dia terus saja mengocok batangnya.
Kemudian dia melepaskan hisapannya dan berkata,
“Enak, Yan?” Tangannya masih terus mengocok kemaluanku.
Aku tidak dapat menjawab dan mencoba menikmati saja. Kocokannya dihentikan sesaat dan dia meludahi kemaluanku. Aku terheran-heran,
“Biar licin!” katanya sambil meneruskan aktivitasnya.
Dia mulai menghisap kemaluanku semuanya dari batang sampai kepala. Sungguh pintar bekas pacarku ini. Kulihat dengan perasaan nikmat kepala Dinda naik turun menghisap kemaluanku.
Sesaat kemudian kami berdua sudah telanjang bulat. Tubuh Dinda amatlah proporsional, putih padat dan berisi, dengan pinggang yang kecil, pantat yang montok dan buah dada yang menggunung indah. Baru kali ini aku melihat pemandangan seindah itu. Aku sempat melihat bulu kemaluannya yang rapi berjajar di sekitar lubang vaginanya sementara dia mencopot celana dalamnya. Setelah itu dia menjilat-jilat kedua buah pelirku. Aku hanya terpejam merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Dinda akhirnya berhenti dan mulai menduduki kemaluanku yang basah. Dituntunnya kepala kemaluanku ke lubang vaginanya. Aku sudah menyerah dan tidak peduli dengan ajaran agama. Bayangan Putri melayang-layang dalam benakku. Persetan! Yang penting nikmat! dan begitu pas, langsung saja pantatnya diturunkan secara perlahan-lahan. Benar-benar surga dunia yang kurasakan. Memang baru pertama kali ini aku melakukan senggama.
Kemaluanku terasa terperangkap di belahan daging yang sempit. Dinda terus menaik-turunkan tubuhnya. Buah dadanya bergoyang indah seperti pepaya Thailand yang ranum. Aku segera memegangnya. Aduh enaknya! Tapi tak lama kemudian aku merasa ada yang hendak dimuntahkan dari kemaluanku. Padahal baru beberapa menit saja, ya mungkin baru pertama kali. Aku meringis keenakan dan rupanya Dinda tahu itu.
“Mau keluar, Yan?” Aku mengangguk saja.
Dia cepat-cepat mencabut kemaluanku dari lubang vaginanya dan meletakan batang kemaluanku di antara belahan dadanya yang dalam. Dijepitnya batang kemaluanku dan dinaik-turunkan dengan irama teratur. Dan benar, sebentar saja air maniku muncrat
“Diinnn… aduh… aduh.” Aku merintih keenakan dan tubuhku bergetar
“Croot… crot… crot…”, banyak sekali! Dinda hanya tersenyum saja, dibiarkannya air maniku membasahi belahan dadanya yang montok.
Digenggamnya batangku kemudian diusap-usapkannya kepala kemaluanku ke puting susunya yang ranum. Geli sekali rasanya. Aku merasa lemas dan mataku terasa berat. Aku merasakan jantungku berdegup lebih kencang. Dinda menjatuhkan kepalanya ke dadaku dan mengatakan bahwa dia ingin kembali kepadaku. Aku mengusap rambutnya dan mendekapnya erat-erat.
Tiba-tiba perasaan sayangku kepada Dinda bergelora kembali dan dalam hatiku aku juga ingin kembali padanya.
Demikian cerita yang kubagikan pada kalian. Sungguh pengalaman yang luar biasa walau hanya 9 menit saja. Aku benar-benar menyesal telah melakukannya. Maksudku bukan menyesal karena dosa tapi menyesal kenapa tidak dari dulu-dulu saja aku melakukannya. Ternyata Dinda telah hilang perawannya oleh pacarnya.
Setelah beberapa lama hubungan kami akhirnya diketahui Putri dan sekarang aku telah putus dengannya. Aku sadar aku adalah manusia terbrengsek karena membagi cintaku dan menyakiti Putri. Tapi apa mau dikata? Aku masih mencintai Dinda, apalagi setelah pengalaman itu, walau aku juga sayang Putri. Ah, semua serba sulit

Komentar Anda

Leave a Reply