GOLBET88 | Bandar Bola Online | Judi Togel | Casino Online | Poker Online
728x90 Untitled-1

Modus Sang Fotographer

Dewasasex.com – Kehidupan seks ku yang aku jalani bagaimana caranya aku bisa membutuhi hasratku, diusiaku yang 33 tahun ini aku masih belum menikah, aku bukanlah termasuk wanita yang cantik tapi kata teman temanku aku mmempunyai tubuh indah, dengan rambut lurus hitam panjang sampai punggung tubuhku yang berisi menyebabkan payudaraku kencang keatas.

Dengan aku rawat tubuhku ini setiap seminggu sekali bulu vaginaku saya cukur terlihat bulu bulu tipis hinggap di sekitar vaginaku, kedua payudaraku aku bungkus dengan BH ukuran 36B, saat ini aku tinggal sendiri di rumahku yang terletak di surabaya, aku ingat pada hari jumat keponakan yang bernama Ozie menelponku, dia masih muda umur 17tahun.

Halo, tante Mia .. ?, katanya dari seberang telepon.

Iya, siapa ini .. ?, tanyaku.

Ozie, tante ..

Oh.. kenapa, Zie ?

Tante, kalau boleh Ozie mau minta bantuan tante.

Bantuan apa ?

Boleh tidak kalau tante jadi model untuk Ozie foto ?

Buat apa kamu foto-foto tante ?

Cuma iseng aja kok ..

Aku mengerti dengan keinginannya ini. Ozie sedang menekuni hobi fotografi sehingga tentu saja dia mencari-cari apa saja yang bisa di foto olehnya.

Boleh saja.., kataku.

Terima kasih tante. Saya akan datang sebentar lagi. Kira-kira 10 menit lagi sampai. Kita foto-foto di rumah tante saja.

Oke, kalau gitu. Tante tunggu, ya …

Aku menutup telepon itu dan segera menuju ke kamar tidurku untuk mengambil pakaian agar aku dapat menutupi tubuhku yang saat ini hanya sedang memakai celana dalam berwarna putih saja. Jika aku sendirian di rumah, aku memang biasanya selalu dalam keadaan setengah telanjang atau telanjang bulat.

Bila ada yang hendak datang, baru aku mencari pakaian untuk menutupi tubuhku itu. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak aku berumur 27 tahun yaitu sejak aku tinggal sendirian di rumah itu. Di dalam kamar tidurku, aku tidak langsung menuju lemari pakaian.

Aku memutuskan untuk membubuhkan sedikit make up ke wajahku sebab Ozie akan memakaiku sebagai model untuk fotonya dan aku ingin tampil sedikit menarik di depan kameranya.

Setelah selesai memakai make up, dari dalam lemari pakaian aku mengambil sebuah rok terusan tanpa lengan berwarna putih dengan strip biru yang panjangnya sedikit di atas lututku. Tanpa memakai bra lagi, aku segera memakai rok itu dan merapikannya sebelum akhirnya aku mengikatkan ikat pinggang putih yang menjadi bagian dari rok itu.

Baru saja saat aku selesai mengenakan pakaianku, aku mendengar bel pintu berbunyi. Dengan melangkah sedikit cepat, aku keluar dari kamar tidurku dan segera menuju pintu depan untuk membuka pintu. Rupanya Ozie sudah tiba di rumahku. Halo tante.. Tante kelihatan cantik, katanya sambil tersenyum.

Tentu saja. Kan mau jadi model.. ayo, masuk.. , kataku sambil tersenyum pula.

Ozie segera melangkah masuk ke rumahku. Aku segera menutup pintu depan dan kemudian mengajaknya ke ruang tengah. Sesampainya kami di ruang itu, Ozie berkata,

Kita bisa mulai tante ?

Oh, bisa saja .. kamu mau di mana ?, tanyaku.

Bagaimana kalau di teman belakang rumah tante ?

Ok..

Kami kemudian menuju ke taman belakang rumahku. Taman belakang rumahku termasuk cukup luas dan memiliki tatanan yang cukup bagus serta dikelilingi oleh pagar tembok yang cukup tinggi sehingga tidak ada orang yang bisa melihat ke dalam tamanku ini.

Sesampainya kami di taman ini, Ozie mulai mengeluarkan kamera digitalnya dan memulai kegiatannya. Ozie bertindak sebagai fotografer sekaligus pengarah gaya. Setelah beberapa lama, akhirnya kami hampir selesai.

Tante, ini foto yang terakhir. Aku minta tante berdiri membelakangiku. Saat aku memberikan aba-aba, tolong tante berputar menghadapku. Tolong jangan berputar terlalu cepat. Biasa saja.. , katanya.
Aku melakukan apa yang seperti dia katakan dan dia menjepretku.

Akhirnya kegiatan kami sudah selesai dan kami tinggal melihat hasilnya. Ozie segera memindahkan foto-foto tersebut dari memory card ke dalam laptop yang dibawanya. Setelah selesai, aku dan Ozie bersama-sama memeriksa hasil fotonya.

Foto yang terakhir membuatku agak terkejut, sebab di dalam foto itu terlihat bahwa ternyata saat aku berputar, rokku tersibak dan celana dalamku yang berwarna putih terlihat dengan jelas. Selain itu, tanpa aku sadari ternyata bagian dada dari bajuku menjadi longgar karena beberapa kali bergaya sehingga sebagian payudaraku terlihat tidak tertutup, bahkan puting payudaraku telihat samar-samar dari baliknya. Saat aku melihat keponakanku, wajahnya terlihat datar saja. Rupanya dia sudah tahu kalau hasilnya bakal begini. Foto ini paling bagus, katanya.

Tapi celana dalam tante kelihatan .., kataku.

Justru di sini bagusnya. Tante kelihatan seksi sekali..

Aku tersenyum saja. Walaupun sedikit merasa malu, aku menyukai fotoku yang terakhir itu juga.

Zie, tante minta copy dari file gambar yang terakhir ini.., kataku

Oke.., katanya.

Setelah kegiatan kami berakhir, Ozie tidak langsung pulang. Kami kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa untuk berbincang-bincang. Selama berbincang-bincang, Ozie terus menatap bagian dadaku yang sejak tadi menampakan sebagian payudaraku seperti di dalam foto karena aku lupa untuk membetulkannya. Saat aku menyadari hal itu, aku tidak berusaha untuk menutupinya. Ada perasaan senang yang menjalari tubuhku. Setelah beberapa lama, akhirnya aku berkata,

Zie, kenapa melihat dada tante terus ?

Ozie sedikit terkejut. Dia menoleh ke tempat lain sambil menjawab,

Ngak ada apa-apa, kok tante..

Aku tersenyum melihat tingkahnya. Aku sangat suka kalau dia melihatku seperti itu.

Zie, kalau kamu suka, kamu boleh melihatnya lagi kok, kataku.

Tanpa menunggu tanggapan dari Ozie, aku melebarkan bagian dada bajuku sehingga kali ini kedua payudaraku dapat terlihat dengan jelas. Ozie yang mendapat pemandangan seperti itu segera saja melotot dan melahap kedua payudaraku dengan pandangan yang penuh minat. Aku yang melihatnya seperti itu tersenyum dan membiarkan Ozie untuk menjelajahi dadaku dengan pandangannya.

Akhirnya Ozie menjadi tidak tahan. Dia bertanya kepadaku,

Tante, bolehkah Ozie memegangnya ?

Aku mengangguk sambil tersenyum.Tanpa membuang waktu lagi, Ozie segera menggapai kedua payudaraku dengan tangannya dan mulai meremas-remas serta mempermainkan putingnya. Kontan saja aku menjadi terangsang.

Kubaringkan tubuhku ke atas sofa dan kupejamkan mataku untuk menikmati sensasinya. Setelah agak lama, tanpa permisi lagi Ozie mulai menciumi dan menjilati kedua payudaraku. Aku terus saja memejamkan mata dan menikmati setiap rangsangan di payudaraku.

Tubuhku ikut memberikan reaksi terhadap rangsangan itu. Aku merasakan cairan kewanitaanku mulai mengalir dan membasahi vaginaku. Setelah beberapa lama, tanganku mulai membuka pakaian Ozie.

Sambil terus menciumi dan menjilati kedua payudaraku, Ozie membantuku membuka bajunya sehingga dalam sekejab Ozie berada dalam keadaan telanjang bulat. Penisnya terlihat berdiri tegak karena sudah pasti dia juga dalam keadaan terangsang.

Untuk sementara, dia melampiaskan nafsunya kepada kedua payudaraku. Aku tidak mau ketinggalan. Kujulurkan tanganku untuk menggapai penisnya. Setelah penisnya berada di dalam genggamanku, aku mulai memainkan penisnya pula.

Setelah beberapa saat lamanya, Ozie melepaskan bibirnya dari payudaraku dan berkata,

Tante, kalau boleh aku juga ingin melihat memek tante.

Mendengar permintaannya ini aku segera berdiri dan mengangkat rokku dengan tanganku sehingga sekali lagi aku memamerkan celana dalam putihku kepadanya.

Kamu buka sendiri celana dalam tante, kataku.

Ozie segera berjongkok di depanku dan dengan tangan yang agak gemetar meraih celana dalamku. Dengan perlahan-lahan namun pasti, celana dalamku melorot turun dan sedikit demi sedikit memperlihatkan rambut vaginaku sampai akhirnya keseluruhan vaginaku tidak lagi ditutupi oleh celana dalam putihku.

Vaginaku terlihat sedikit basah oleh karena cairan kewanitaaanku. Ozie membiarkan celana dalam putihku tersangkut di bagian lututku dan mulai meraba vaginaku.

Tante, ini indah sekali, katanya sambil membelai rambut vaginaku dengan lembut.
Aku diam saja dan kembali merasakan rangsangan yang kali ini berpindah dari payudara ke vaginaku.

Dengan jarinya, Ozie menyodok-nyodok liang vaginaku sehingga jarinya dibasahi oleh cairan kewanitaanku. Setelah Ozie menjilati jari-jarinya itu sampai semua cairan kewanitaanku yang menempel di jarinya habis, dia kembali menyodok-nyodokan jarinya di liang vaginaku lagi.

Dia melakukan hal itu berkali-kali . Kelihatannya dia sangat menikmati cairan kewanitaanku. Sambil menusuk-nusuk liang vaginaku, jari-jarinya yang lain memainkan klitorisku. Rangsangan yang aku rasakan menjadi semakin hebat.

Di saat aku merasakan tubuhku menjadi semakin lemas, aku segera membaringkan diriku di atas sofa karena rangsangan menjadi semakin kuat. Tak henti-hentinya mulutku mendesah-desah karena merasa nikmat.

Setelah puas meraba vaginaku, Ozie mulai menciumi dan menjilati vaginaku. Kali ini rangsangan terasa semakin dashyat. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mendesah dan meremas-remas kedua payudaraku sendiri sementara Ozie terus saja menciumi dan menjilati vaginaku.

Aku yang sudah dalam keadaan sangat terangsang akhirnya mulai tidak tahan.
Zie, buka pakaian tante sampai tante telanjang bulat .., kataku sambil mendesah-desah.
Ozie tidak menjawab, tetapi tangannya mulai membuka ikat pinggang rokku dan tidak lama kemudian aku sudah berada dalam keadaan telanjang. tidak lupa Ozie meloloskan celana dalam putihku yang dari tadi tergantung di kedua lututku sehingga tidak ada selembar benangpun yang tersisa di tubuhku. Ozie terdiam sejenak dan memandangi tubuhku yang dalam keadaan polos tanpa pakaian.

Tante cantik sekali. Tubuh tante bagus dan sexy, katanya.

Aku tersenyum dan berkata,

Kalau kamu suka, kamu boleh menyetubuhi tante. Tante mau berhubungan intim dengan kamu, kok..
Dengan tersenyum, Ozie kemudian membuka kedua kakiku dan memposisikan penisnya di depan vaginaku.

Dengan satu hentakan lembut, seluruh penisnya terbenam ke dalam vaginaku yang diikuti oleh teriakan tertahanku karena merasakan kenikmatan. Setelah itu, Ozie mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur sehingga penisnya menyodok-nyodok di dalam lubang vaginaku.

Cairan kewanitaanku turut memberikan andil dalam membantu penis Ozie agar meluncur maju mundur dengan mudah dalam liang vaginaku ini. Kami berdua mendesah-desah karena nikmat. Dalam posisi ini, aku mengalami orgasme berkali-kali sambil diiringi erangan-erangan dari bibirku.

Setelah beberapa saat, Ozie menarik penisnya dan memberikan isyarat agar aku menungging. Aku menurut saja. Kuputar badanku dan kutunggingkan pantatku di depannya. Sedetik kemudian, aku merasakan penisnya masuk kembali ke dalam liang vaginaku dan mulai menyodok-nyodok lagi.

Rupanya Ozie melakukan doggy style kali ini. Sekali lagi aku terjebak dalam dashyatnya kenikmatan berhubungan intim. Beberapa kali aku merasakan orgasme yang luar biasa sebelum akhirnya aku mendengar erangan kenikmatan dari bibir Ozie yang disertai dengan semburan spermanya di dalam rahimku yang menandakan bahwa akhirnya Ozie telah mencapai kenikmatan puncak pula.

Sperma Ozie terasa hangat di dalam rahimku. Setelah menyemburkan spermanya, Ozie mencabut penisnya. Aku merasa bahwa ada sedikit sperma yang meleleh keluar dari liang vaginaku dan membasahi vaginaku bagian luar saat penisnya tercabut.

Segera saja aku menjulurkan jari-jariku ke vaginaku dan mengambil lelehan sperma yang mengalir turun. Setelah jari-jariku berlumuran sperma Ozie, aku membersihkan jari-jariku dengan menjilat-jilat sperma yang melekatinya.

Rasa sperma yang khas selalu membuat aku senang. Setelah itu, Aku membalikkan badanku yang dalam keadaan telanjang menghadapnya terlentang. Sisa sperma Ozie yang sudah tinggal sedikit masih terlihat menempel di vaginaku bagian luar.

Ozie kemudian merebahkan dirinya di atas badanku dan memelukku. Aku segera membalas pelukannya. Sambil berpelukan dalam keadaan telajang bulat, kami saling berciuman bibir dengan mesra untuk beberapa saat lamanya. Perasaan yang nikmat masih tersisa di antara kami.

Akhirnya setelah beberapa saat, kami memperoleh kekuatan kami kembali. Kami segera bangkit dari pembaringan dan mulai memunguti pakaian kami yang tercecer di mana-mana. Aku segera mengenakan kembali celana dalam putih dan rokku. Setelah selesai berpakaian, kami kembali duduk di sofa dan berbincang.

Tante, tadi enak sekali. Tante memang nikmat, katanya.

Aku tersenyum saja dan lalu berkata,

Kamu juga hebat. Kamu belajar dari mana ? Usiamu kan baru 16 tahun, tapi kok kayaknya kamu sudah sering melakukan hubungan seks ?

Ah, tante. Ozie ini sudah sering melakukannya sama mama di rumah..

Aku sangat terkejut mendengarnya. Rupanya selain aku, kakakku juga melakukan incest dengan anaknya sendiri. Tapi hal ini membuat aku sedikit lega sebab setidaknya kakakku tidak akan mempermasalahkan hubungan seksku dengan anaknya bila dia sendiri juga melakukannya. Terus, mana yang lebih enak ? Mamamu atau tante ini ?

Ozie tersenyum sambil berkata,

Kalian berdua sama-sama enak, kok.. tapi kalau disuruh memilih, Ozie masih lebih suka melakukannya dengan tante soalnya tante lebih cantik dari mama, sih..

Apa kamu sering melakukan dengan mamamu ?

Kalau papa ngak ada di rumah aja

Aku diam saja kali ini. Beberapa saat kemudian Ozie berkata,

Tante, Ozie mau pamit.

Sudah mau pulang ?

Iya, tante.

Ya, sudah kalau gitu. Hati-hati di jalan, ya..

Ok.. Oh ya, lain kali Ozie masih boleh memotret tante ?

Aku mengangguk sambil tersenyum.

Tentu saja, kalau mau pose yang agak nakal tante bersedia kok, kataku.

Bayarannya pakai itu ya ..

Kali ini aku tertawa.

Apa saja, deh..

Ozie melangkah pergi sambil melambaikan tangannya. Aku membalas lambaiannya dan memandang dia mengendarai mobilnya sampai menghilang dari pandanganku sebelum akhirnya aku menutup pintu rumahku dan menguncinya. Hari ini merupakan hari yang sungguh menggembirakan bagiku karena aku memperoleh satu cara lagi untuk memuaskan hasratku.

Komentar Anda

Leave a Reply